Resume Kajian Fiqih Ustadz Arifin – Masjid Baitur Rahman

Bismillah

Karena kajian ustadz arifin adalah kajian tentang fiqih, maka resume saya kali ini tidak membahas keseluruhan. Bagi teman-teman yang ingin memperbaiki cara ibadah ,terutama sholat, dari segi fiqih sangat saya sarankan membaca buku-buku fiqih seperti sifat sholat nabi karya Nashruddin Al Albani, Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, Al Umm karya imam Syafi’I, buku Fiqih Kontemporer karya Prof Dr Wahbah Zuhairi dan lain sebagainya. Di buku-buku tersebut terdapat dalil-dalil yang lengkap yang bisa menjadi rujukan kita dalam melakukan sholat. Karena ini ranah fiqih, pasti ada perbedaan beberapa pendapat ulama yang disebabkan ijtihad masing-masing ulama. Dengan membaca lebih banyak buku maka referensi kita semakin banyak sehingga kita tidak mudah menyalahkan cara beribadah orang yang berbeda dengan cara ibadah kita. Wallohu’alam

Dari sekian panjang penjelasan ustadz Arifin pada kajian tiap malam kamis pertama di masjid Baitur rahman kemarin, ada beberapa hal yang saya anggap “menarik” dan penting untuk saya tulis. Sholat adalah salah satu tiang agama. Setiap muslim wajib mengerjakan sholat yang diwajibkan dan dianjurkan melakukan sholat sunnah sebagai tambahan amalan ibadah kelak ketika meningggal. Hadits Rasul “sholatlah seperti kalian melihat aku shplat” mungkin sudah sangat populer di telinga kita. Kita harus mencontoh sholat Rasul mulai dari gerakan sholat, bacaan sholat hingga bagaimana Rasul sangat mengutamakan sholat jamaah.

Sholat berjamaah sepertinya memang sangat luar biasa urgensi nya bagi umat muslim sehingga Rasul sangat menganjurkan nya dan berusaha melakukan nya. Pernahkah kita membaca sirah berikut yang bisa menggambarkan betapa Rasul ingin menegakkan sholat berjamaah:

Seperti kita ketahui, Rasul meninggal pada hari senin dalam keadaan sakit. Pada hari jumat sebelum beliau meninggal, Rasul sedang demam sangat tinggi. Beliau sudah sangat payah untuk bergerak tetapi beliau masih sempat sholat maghrib berjamaah bersama sahabat. Selesai sholat maghrib, Sahabat memapah beliau memasuki rumah (rumah Rasul dekat dengan masjid) dan membaringkan di tempat tidur. Ketika masuk waktu isya’ Rasul berusaha bangun dari tempat tidur, tetapi tidak bisa. Sahabat yang sudah menunggu di masjid pun menjemput beliau di kamar. Rasul melihat kiri kanan lalu bertanya “apakah orang-orang sudah sholat?” sahabat pun menjawab “belum ya Rasul, kami menunggu engkau”. Rasul pun meminta seember air untuk menyeka badan beliau agar suhu tinggi yang beliau derita menurun. Selesai menyeka, Rasul berusaha bangkit dan beliau pingsan karena tidak kuat.

Setelah siuman, Rasul bertanya lagi “apakah orang-orang sudah sholat?” Sahabat menjawab “belum ya Rasul, kami menunggu engkau”. Lalu Rasul meminta seember air lagi dan disiramkan semua ke badan beliau untuk menurunkan panas yang beliau derita. Setelah itu beliau mencoba bangkit lagi dari tempat tidur dan jatuh pingsan lagi yang kedua kali nya. Setelah siuman lagi, Rasul pun bertanya lagi “apakah orang-orang sudah sholat?” sahabat menjawab “belum yaa Rasul, kami menunggu engkau”. Rasul pun meminta lebih banyak air lagi untuk disiramkan ke badan beliau  untuk meredakan panas yang beliau derita. Beliau pun mencoba bangkit lagi, tetapi beliau pingsan lagi.

Para sahabat masih menunggu beliau siuman dan meneriakkan takbir. Ketika Rasul siuman, beliau bertanya lagi “apakah orang-orang sudah sholat?” Sahabat pun menjawab “belum yaa Rasul, kami menunggu engkau” lalu Rasul memerintahkan Abu bakar yang memimpin sholat berjamaah (ada hadits nya, diriwayatkan imam Bukhori  dengan redaksional nya tidak  seperti diatas. Tetapi maksudnya kurang lebih sama). Subhanalloh, betapa Rasul dan sahabat sangat mengutamakan sholat berjamaah. Pertanyaan nya adalah, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mencontoh Rasul dalam hal sholat berjamaah? Bukankah sholat berjamaah pahalanya dilipat gandakan 27 kali dibanding sholat sendiri? Tetapi mengapa masjid-masjid masih banyak yang kosong ketika sholat rawatib lima waktu? Bukankah akan sangat indah jika jumlah jamaah sholat subuh sama dengan jumlah jamaah sholat jumat?

Berikut adalah beberapa poin dari sesi tanya jawab :

  • Salah satu kesalahan makmum ketika berjamaah adalah dia bergerak sebelum imam sebelum gerakan imam sempurna, hal ini selayaknya sangat diperhatikan makmum ketika berjamaah.
  • Sholat maghrib, isya dan subuh disunnahkan men jahr kan bacaan Al fatihah dan surah pada dua rakaat pertama meskipun dia sholat sendiri.
  • Salah satu syarat diterima nya sholat adalah tuma’ninah. Sholat harus tenang, rileks dan tidak terburu-buru. Bukankah ada hadits Rasul menyuruh seseorang mengulangi sholatnya karena dia tidak tuma’ninah dalam sholat?
  • Membaca Al fatihah adalah wajib dalam sholat. Tetapi jika kita sholat berjamaah, ketika imam membaca Al fatihah dan surah di sholat jahr, ada dua pendapat. Kita diam (pendapay imam Ahmad) atau membaca Al fatihah juga (pendapat imam Syafi’i).
  • Tidak ada satupun hadits yang menyatakan ada perbedaan gerakan sholat antara laki-laki dan perempuan.
  • Dalam satu musholla/masjid, tidak ada dua jamaah. Seharusnya satu jamaah.

One thought on “Resume Kajian Fiqih Ustadz Arifin – Masjid Baitur Rahman

  1. Ping balik: Resume Kajian Fiqih Ustadz Arifin – Masjid Baitur Rahman | ibrzone

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s