Alun Alun Kota Lamongan

Bismillahirrohmaniir rohiim

Apa kabar sobat blogger? semoga sehat dan bahagia selalu.  Cukup lama aku tidak menulis lagi di blog ini, tulisan yang benar-benar orisinal kutulis lebih tepatnya karena posting terakhir isinya cuma kopas saja dari group email kantor.  Koneksi internet kantor yang @#@#!* membuatku malas buka admin wp #alibi. 😀

Alhamdulillah, bulan kemarin sempat pulang ke kota kelahiran tercinta, Lamongan. Dengan menggunakan jasa kereta api kertajaya, aku berangkat senin siang dari Jakarta dan tiba selasa dini hari di Lamongan.  Sambil menunggu adik yang akan menjemput di pagi harinya, aku memilih langsung ke masjid agung Lamongan yang terletak di alun-alun kota untuk istirahat dan sholat shubuh.

Setelah sholat shubuh, aku mengikuti pengajian rutin bada shubuh di masjid tersebut sampai jam setengah 6. Karena adik belum juga kelihatan, aku memutuskan untuk mengelilingi alun-alun kota Lamongan yang “baru”.  Aku menyebutnya “baru” karena wajah alun-alun ini beberapa tahun terakhir dipermak habis sehingga membuat nyaman warga yang mengunjunginya.

Karena alun-alun adalah trademark setiap kota, terbersit pikiran untuk menjepret keadaan disana dan dishare disini.. Check it out.

1. Menara dan fasilitas olahraga.

menara lamongan

2. Miniatur pesawat foker, dan menara kembar masjid agung.

3

 

3. Kolam ikan

4

4.  Buat yang suka skate board dan free style rider, menuju Lamongan gaul. 🙂

5

 

5. Arena bermain anak-anak.

8

 

6. Kandang burung parkit, lovebird. (ada juga kandang merpati yang tidak tertutup lho)

Lamongan-20140506-00367

7.  Wifi On

11

 

8.  Halaman luas untuk upacara para pejabat kota

9

 

9.  Alun-alun ini juga digunakan untuk tempat olahraga siswa smp setempat. 10

 

10.  Plakat di gapura

2

 

10. Pedagang nasi boranan,  makanan khas Lamongan

7

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

11. Toilet pun ada wifinya, biar eksis. :p

Lamongan-20140506-00366

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

12. Pendopo Lamongan (biasanya alun-alun itu sepaket dengan pendopo dan masjid agung)

Lamongan-20140506-00385

 

Ini alun-alun kota ku, gimana alun-alun kota mu?  pastinya bagus juga kan? boleh ditulis dikolom komentar link nya. 🙂

 

 

 

Stop Jadi Penyebar Bibit-Bibit Pemecah Ukhuwah

Bismillahirrohmaniir rohiim

Akhirnya.. bisa nulis lagi di blog, setelah sekian lama tenggelam dalam pusaran pekerjaan di kantor yang sejak dua bulan ini  amanahnya bertambah untuk jadi bagian dari majalah bulanan kantor. 🙂

Seiring dengan berkembangnya teknologi, informasi bisa didapat dengan murah, mudah dan cepat. Peran SMS yang mahal (dulu 350 rupiah per sms), sekarang digantikan whatsapp atau bbm yang sangat murah,  bisa mencapai 1 rupiah per message.

Selain murah, salah satu keuntungan whatsapp atau bbm adalah adanya fasilitas grup yang memungkinkan anggotanya bertukar informasi secara massal. Salah satu grup yang saya ikuti adalah grup yang diberi subject “Dalam Dekapan Ukhuwah” . Dari judulnya, bisa sobat bayangkan bagaimana nantinya konten dari informasi yang mengalir di grup ini? ohya, grup ini anggotanya berasal dari salah satu harokah yang cukup punya nama di Indonesia.

Dari banyak informasi di grup tersebut, saya ingin meng-share episode obrolan yang menurut saya bisa diambil hikmahnya. Berikut copas-an nya

—————————————

TUKAR PADU

Alfa :

Seorang aktivis H** berkata keras-keras penuh emosi: “Indonesia ini negara thoghut. Dasar negaranya bukan Al-Qur’an tapi Pancasila. Sumber hukumnya bukan Hadis, tapi UUD 1945. Lambangnya bukan kalimat tauhid, tapi Garuda Pancasila. Tolak negara ini, jangan taati pemerintahnya. Dirikan khilafah di bumi nusantara, tegakkan syariah secara sempurna”.

Teman sy yang gampang emosi, di forum itu, lantas menimpali: Anda ini telah berzina sekian lama. Anak-anak dan istri Anda itu haram dan tidak sah sebagai keluarga Anda. Karena Anda menikah di Indonesia dan disahkan oleh pemerintah Indonesia. Buku nikah Anda bergambar Garuda Pancasila. Jelas sekali itu tidak sah, jadi Anda dan semua kelompok Anda yg telah menikah, sesungguhnya berzina. Lalu, semua transaksi keuangan Anda itu haram semua. Jual beli Anda dengan siapapun di negeri ini tidak sah hukumnya. Karena Anda memakai rupiah, sedangkan rupiah bergambar Garuda Pancasila dan dibuat oleh pemerintah RI. Anda juga haram jadi penduduk negeri ini. Sebab KTP Anda bergambar Garuda Pancasila dan diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia. Jangan hanya bicara, kalau memang menolak Indonesia dan pemerintahnya, buktikan dengan sikap. Buang KTP Anda, dan jangan pernah punya KTP Indonesia. Buang semua uang Anda, karena semuanya rupiah. Bakar buku nikah Anda, karena itu tidak dari negara Islam dan tidak kari kilafah yg Anda perjuangkan. Cepat angkat kaki dari tempat ini atau saya bantu Anda hilang dari negara ini!”.

Saya dan kawan2 yang mendengar perdebatan itu, tak bisa berkata apa-apa. Diam saja tapi terus terang kami tak bisa menahan  tawa. wqwqwqwqw

 Sumber: copasan seko aki Ichwan Ndeso Manggon Kutho — with Andi Rizqhi Nurul Azisyah and 45 others.

Beta :

Sebagian statemen H** benar kan? ‘Dasar negaranya bukan Al-Qur’an tapi Pancasila. Sumber hukumnya bukan Hadis, tapi UUD 1945. Lambangnya bukan kalimat tauhid, tapi Garuda Pancasila” ?

Tapi yg men-judge penyembah thoghut? Tunggu dulu, itu kajiannya panjang.. Kalo disini ada yg kompeten, monggo. Kalo ane ga ngerti apa2

Beta :

 Terus temen nya yg emosi nanggepin, kayaknya beberapa statemenya harus dikritisi deh.. ” Buku nikah Anda bergambar Garuda Pancasila. Jelas sekali itu tidak sah, jadi Anda dan semua kelompok Anda yg telah menikah, sesungguhnya berzina.” , ini tuduhan yang luar biasa dan tidak berilmu.

Setahu ane yg belum menikah ini, adanya gambar garuda di buku nikah tidak menggugurkan status pernikahan.. Mengapa dituduh berzina?

 Poin ane, hati2 dalam men-share sesuatu, soalnya semua itu harus kita pertanggung jawabkan kelak

 Kalau tulisan2 gak jelas kayak diatas, memecah ukhuwah, mendingan diemin aja, ga usah di share deh.. Lebih banyak mudharatnya.

 Charlie :

Mksdnya dia gak ngakui negara, berarti gak ngakui UU negara. Wallahu’alam.

 Beta :

Afwan, ini pendapat ane, ane gerah ada sharing kayak begituan.. Cmiiw

 Delta :

Mungkin yg share jg kegerahan krn harokahnya sering disudutkan, krn ikut berpolitik n berdemokrasi. Wallahu ‘alam.

 Beta :

Akh Delta, ya sudah kalo dia gak ngakui negara, itu bukan hak kita memaksa mereka kan? Mereka pun dalam bersikap ber-dalil? Seperti halnya yang mengakui demokrasi, mereka juga ber dalil kan?

Di situ lah terlihat letak kedewasaan sebuah harokah dalam menanggapi isu2 yg dikeluarkan lawan politiknya.

 Echo :

Disini berkoar-2 masalah khilafah Tapi dimesir mereka malah mendukung kudeta. Ga jelas perjuangannya. Memang mendirikan khilafah. Bim salabim. Harus ada proses. Dari pribadi islami menjadi keluarga islami dari keluarga islami menjadi masyarakat islami dari masyarakat islami dari menjadi negara islami kalo semua negara sdh, baru bs mendirikan khilafah. Belajar shiroh nabawiyah biar jelas. Yg penting tujuannya bukan cara ato kontennya. Buktikan pada pemilu 2014 bahwa umat islam harus menang…. allahu akbar

 Dari kacamata awam

– nanti jual beli pakai apa?

– nikah yang sah bgmn?

– trus kalau mau haji, sebagai warga negara apa?

 Fanta :

IMHO, silakan saja H** tidak setuju dengan NKRI, tapi khilafah islam bukanlah solusi yang tepat karena sifatnya jangka panjang. Harus ada solusi jangka pendek karena urusan perut dan bawah perut gak bisa nunggu lama2 

Gama :

Jiakaka….langsung klekep deh…

Mo pindah ke negara mana tuh…

 Artinya orang H** gak boleh haji naik peaawat Garuda

 Horison :

Ga usah dibahas lah di sini soal H**, ga akan menjadi sebuah penyelesaian jg karena disini toh ga ada org H**. Dan saran sy sih jgn jadikan pemikiran saudara kita di H** jd penghalang kita buat berteman sama mrk. Tunjukkan klo ikhwah itu org2 yg santun dan baik tutur katanya. Klo mau debat dgn org H**pun dgn bhasa yg baik. Ane paling seneng liat gaya bahasa nya ust salim a fillah. Klo negur atau debat bahasa nya enak bner di denger. 

Lagian klo kita ributin H**disini yg ada cm jd debat kusir tanpa penyelesaian. Dan itu ga disukai nabi kita. Ane lupa bunyi hadist nya, tp ada hadist yg menyuruh kita menjauhi debat. Imho….

*Alfa,Beta,Charlie dst bukan nama sebenarnya

—————

Sepengalaman saya, sangat banyak broadcast, update status, nge-tweet dsb yang berpotensi memecah ukhuwah, meskipun gaya tulisannya dibuat bercanda tetapi kalau kita mau meresapi nya ternyata hal ini berbahaya bagi ukhuwah.

Menurut saya broadcast seperti yang dilakukan Alfa itu akan menanamkan kebencian para anggota grup “Dalam Dekapan Ukhuwah” ke aktivis H** . Dimulai dari memantik emosi dengan menyebut H** menghukumi Indonesia menyembah Thaghut, lalu penyebar broadcast melempar tuduhan bahwa aktivis H** berbuat zina akibat batalnya nikah karena gambar garuda di kartu nikah (yang merupakan pembodohan, darimana dalilnya nikah batal kalau buku nikahnya ada gambar garuda?)  dsb. Kalau seperti itu, ukhuwah bagian mana yang mau di dekap?

Sobat, mari kita berhati-hati. Berhati-hati saat menulis status, berpikir dua kali saat mem-broadcast, atau memahami apa yang kita copas. Begitu juga dalam hal fanatik pada harokah, merasa harokah nya paling benar dan paling berhak menggapai syurga. Sungguh harokah itu hanya kendaraan untuk mencapai tujuan yang sama, orang yang berbeda kendaraan dengan kita itu masih saudara kita selama dia bersyahadat. Ingatkan jika kendaraan saudara kita itu menempuh jalur yang salah atau melanggar rambu-rambu Alloh, tapi jangan tebarkan paku di jalan yang saat ini mereka tempuh.

Janganlah kita menebar bibit kebencian itu…

Semoga Alloh melindungi kita dari berpecah belah , berburuk sangka pada saudara dan ghibah.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara. (QS Ali Imran:103)

 

Pray at The Office

Bismillahiirohmaniirohiim

People consist of two part, body and soul. The two part need  nutrition to keep both health. The body nutrition can be supplied from food, drink and drugs. The soul nutrition can be supplied from religion theory, motivation from another people or  gathering with inspirational environment and people. 

Here, i will share to you how the PLN P3B JB workers get the soul nutrition at the office. 

1. One Day One Juz Program

This program sounds similar with one day one juz which held by a dakwah organisation, but the implementation is different.  one day one juz  programs purposes is to keep the spirit of reading Al Quran among the worker by reading Al Quran every morning, before work time starts.

as we know, jakarta is very crowded and has bad traffic. some worker desire to go work earlier in order to avoid the traffic. They go at 6.00  am from home and arrive at office at 7.30.  Since  the work time starts at 8.00 am, they have 10-15 minutes to read AL Quran in our musholla. No matter how much pages or ayat of Al Quran  they’ve read, they will note it at a form. Sometimes we make an appointment with other what pages we will read.

we hope, the accumulation of the pages or ayat of Al Quran that read by worker can reach one juz on one day.

Starts our day with Al Quran. 🙂

Lima-20130910-00048

Announcement

Lima-20130910-00054

reading Al Quran together

Lima-20130910-00046

the checklist form

2. Ashar prayer together  (jamaah) and continue by Syarah Riyadhus shalihin readings

Ashar prayer time at jakarta is about 3 pm.  Most of worker have finished their work and prepare to go home. Before go home, we held ashar prayer together at our building musholla and continue with  syarah riyadhus sholihin readings by a volunteer.

The volunteer reader reads the hadith from syarah riyadhus sholihin book and another jamaah listen carefully. Syarah riyadhus sholihin is a good book, easy to be understood and applicable in our whole life.

“Majelis ‘ilm is  gardens of heaven”

Lima-20130910-00052

reading riyadhus sholihin after ashar prayer

 

3.  Prayer together on control room (special for shift worker)

as a shift worker who control the electricity in Jawa Bali and ensure the electricity is delivered to your home, we must not leave control room,  at least one of three shift worker must standby to pick up the phone, control the electricity flow and maintain the quality of electricity.

Jamaah prayer is a must for moslem (some ulama say sunnah) except we have an obstacle.  Jamaah worth 27 times to lone prayer. In order to get the eminence of jamaah, we effort to keep jamaah prayer on control room.

sholat jamah di control room

jamaah on the control room

4. Routine islamic study on Baitul Ihsan Mosque, every wednesday

Every wednesday, after dhuhur prayer, there is routine islamic study on our beloved mosque, Baitul Ihsan. The theme is varies and presented by several ustadz. Ustadz Farid Nu’man presents lesson about tazkiyatun nufs, ustadz Muhsinin presents about keluarga sakinah and etc. The audience not only from PLN but aslo the jamaah from surrounding mosque, the student of SMK Utama and etc.

pengajian rabu

5. Special event gathering

When a special event happened, especially religious event, we also held an activities . Some gathering we’ve held are “khataman qur’an’ , “syukuran haji’and etc. The event held simply,for example when celebrated khataman quran we just bought some food and ate together after read juz 30. Very simple event, but believe me, it works for bounding one and other.

syukuran one day one juz

——

Our management totally support the activities. They believe that the best worker is who can balance their nutrition, body and soul, both. 

I believe most of you have a religious activities on work. Dont be hesitate to share. This is my story, and you?

*blogger missions accomplished*

 

Ibu, izinkan aku berbakti padamu

Bismillahirrohmaniirohiim

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Umar melihat seorang pemuda yang thowaf sambil menggendong ibunya. Setelah selesai thowaf pemuda tersebut mencari Abdullah bin Umar. “Hai Abdullah bin Umar, apakah yang aku lakukan ini bisa membalas kebaikan ibuku?” tanya pemuda itu ketika berhasil menemui Abdullah bin Umar.

Abdullah bin umar lalu diam sejenak, lalu berkata “Hai pemuda, seandainya engkau sa’i antara shafa dan marwah, engkau mabit di muzdalifah, wuquf di arafah dan itu engkau lakukan sambil menggendong ibumu, maka sedikitpun tak akan bisa menggantikan satu nafas ibumu saat melahirkan”  (sumber)

Ibu, maafkan aku jika selama ini masih banyak membuatmu kecewa karena perhatian ku yang sangat kurang. Maafkan aku telah membuatmu khawatir jika telat memberi kabar, jika membuatmu bersedih akibat tingkah lakuku yang tidak sesuai , jika membuatmu… jika membuatmu… Ah, terlalu banyak yang belum bisa kuberikan untukmu.

Ibu, meskipun aku tahu, satu tarikan nafasmu saat melahirkanku belum sebanding dengan semua yang telah kuberi padamu, aku tetap saja masih perhitungan dalam membalas budi mu.

Ibu, meskipun aku tahu berkata “uff” saja dilarang agama, tapi betapa banyak kata-kata ku yang tidak berkenan di hatimu..

Ibu, meskipun engkau diam. Tidak menuntut apapun dariku. Menyimpan rapat-rapat keluh kesah mu pada ku. Bukan kewajibanmu meminta balas budi pada ku, aku lah yang wajib membalas budi mu, berbakti pada mu dengan segenap kemampuanku.

Ibu, sungguh aku ingin menjadikan mu salah satu tiket ku menggapai syurga kelak.

….celakalah dan merugilah orang yang tinggal bersama kedua orang tuanya tapi tidak membuatnya masuk surga… (HR Ahmad)

Ya Rabb, ampunilah dosa-dosa ku dan juga kedua orang tua ku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu kecil. Karuniakan mereka kekuatan iman yang kokoh, kesehatan dan juga anak-anak yang sholeh. Ya Rabb, jadikanlah hamba sebagai anak yang berbakti pada orang tua.

———

Ibu, hari ini aku akan menempuh 14 jam perjalanan sejauh 900 km dengan kuda besi. Untuk mengobati rindu. Rindu memeluk mu, rindu masakan mu, rindu nasehat-nasehat mu, rindu rumah.

Ibu jika kehadiranku di rumah bisa membahagiakan mu, semoga pulang kampung yang singkat kali ini, bisa menjadi mozaik-mozaik tiket syurga ku yang terserak.

 

*Ibu disini mewakili bapak juga*

 

 

December Challenges

Bismillahir rohmaniir rohiim

Sungguh cepat waktu berlalu, tidak terasa sudah sampai di bulan penghujung 2013. Padahal terasa baru kemarin saya nge-blog, tapi ternyata sudah  dua tahun eksis di wepe dan menulis 100 posting. Iniadalah posting ke 101  :).  Meskipun sudah 100 posting, sepertinya masih banyak yang kurang di sana sini. Terutama kualitas tulisan yang akhir-akhir ini didominasi curcol dalam kategori catatan bujangan. 😀

Saya masih ingat, Awal-awal 2013, terjadi penurunan semangat menulis, sehingga di beberapa bulan awal 2013 kemarin hanya nulis satu postingan. Menyadari hal tersebut, pertengahan 2013, tepatnya bulan Juni, saya menantang diri sendiri untuk memposting minimal tiga tulisan di blog dan alhamdulillah, terealisasi sampai penghujung november.

Desember ini, saya mencoba menantang diri sendiri lagi. Saya tetap mentargetkan minimal tiga postingan Desember ini,  dan tantangan nya adalah, satu dari tiga tulisan tersebut akan ditulis dengan bahasa inggris ! . Meskipun besar kemungkinan akan terjadi kasus bahasa inggris ala vicky di tulisan tersebut, biarlah. Yang penting saya menulis dalam bahasa inggris. Hehehe.

Desember ini, saya juga akan mencoba menapak tilas awal mula tujuan dibuat blog ini,  untuk menuliskan ilmu-ilmu yang pernah didapatkan. Biar isinya tidak melulu curcol bujangan. 🙂 .

Tantangan lain,  sebenarnya saya ingin menulis puisi, entahlah puisi bertemakan apa, yang penting puisi. Kata pak guru, menulis puisi itu berhubungan dengan kemampuan berbahasa seseorang dan masih melekat dalam memori saya, betapa bahasa indonesia saya luar biasa WOOW  semasa sekolah dulu. Dari tiga kali ujian akhir sekolah, mulai dari EBTANAS, UNAS lalu UAN, semua nilai bahasa indonesia saya kepalanya 6. itupun buntutnya angka minimalis.  🙂

Baiklah, target sebagai blogger Desember ini telah ditentukan. Tinggal menuliskan target-target lain sebagai hamba Alloh, pekerja, dan bujangan.  Doakan saya ya!

Ohya, sobat apa target yang ingin kamu capai akhir tahun ini? 🙂

—————

Lima-20131122-00197Yes! Idea without action is worthless

beyond the limit

Bismillahirrohmanir rohiim

Beyond the limit

Sobat,dua minggu yang lalu saya terserang demam akibat ada virus mumps yang menyerang sistem kelenjar saya. Selain demam , inkubasi virus tersebut membuat saya pusing dan tidak doyan makan. Sebenarnya pada jumat dan sabtu minggu kemarin sudah saya jadwalkan jauh-jauh hari sebelumnya untuk ikutan gowes yang diadakan perusahaan. Gowes dari PLTA Bengkok menuju puncak warung bandrek yang terkenal di Dago, Bandung. Gowes yang rutenya hanya 15 km, tapi 75% tracknya adalah tanjakan dengan kemiringan rata-rata 45 derajat. Cukup menantang buat saya yang biasanya hanya blusukan di hutan UI dan sekitar.

Jumat pagi suhu badan masih berkisar di 35 derajat, kepala juga masih pusing. Saya hanya terbaring di kasur sepanjang pagi, recovery. Jumat siang, badan agak enakan meskipun sendi-sendi masih ngilu akibat suhu badan yang tinggi. Jumat sore, bang Dani , rekan kerja sekaligus sahabat saya itu datang ke rumah sambil menggowes sepedanya. “Ron, ayo berangkat. Demam nya jangan dibiarin, itu karena kebanyakan bengong sendirian di rumah tuh” ujarnya sambil bercanda. “gak Bang, masih recovery nih” aku menolak. “sudahlah berangkat saja, nanti toh kalo kamu gak kuat naik ambulance. Yang penting kita sampai di warung bandrek, foto-foto, beres” dia mulai menghasut. Setelah berpikir sejenak, saya pinjem sepeda dia, mencoba memutar di komplek. Baiklah, badan sepertinya masih bisa dipaksakan, pikir saya. Saya pun bergegas menyiapkan baju, sepeda dan peralatan dengan sedikit tergesa-gesa.

Berangkat dari Gandul jam lima sore, sepeda kami dinaikkan mobil Xtrada yang telah disiapkan panitia. Sepanjang perjalanan, badan saya terasa tidak beres. Suhu badan bertambah tapi rasanya menggigil dan persendian ngilu. Bahkan saat istirahat di KM 87 untuk makan, saya tidak selera. Sampai di PLTA Bengkok hampir tengah malam, pukul 23.30. Setelah menurunkan sepeda, saya langsung ke kamar, minum parasetamol lalu istirahat. Malam itu, beberapa kali saya terbangun.

Keesokan harinya, badan masih terasa tidak fit tapi lebih mendingan dibanding kemarin. Efek parasetamol dan istirahat memang cukup signifikan. Jam 7.30 acara dimulai dengan makan snack, pemanasan bersama, sambutan-sambutan dan penanaman pohon oleh bos-bos, lalu bendera startpun dikibarkan. Sebelum gowes, saya menyempatkan diri untuk makan kacang hijau, pisang, kacang, jagung dan minum suplemen. Berharap  energi nya bisa joss. J

Awal start langsung disambut dengan tanjakan yang cukup lumayan, lalu ada  dua turunan yang cukup curam. Di turunan yang curam ini, ada seorang peserta gowes yang jatuh dan mengalami patah tangan nya sehingga dia harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kami duga, bapak yang jatuh tadi baru pemula jadi goweser (terlihat dari sepeda nya yang masih kinyis-kinyis). Saking semangatnya mendapatkan turunan setelah menggowes di tanjakan, beliau lupa tidak menyiapkan rem dari awal turunan sehingga ketika sampai di turunan bawah beliau mengerem sekeras-kerasnya untuk menghambat laju sepeda tapi apa daya beliau tidak bisa menguasai sepeda sehingga terjungkal jatuh. Pelajaran buat kita agar lebih hati-hati ketika gowes, terutama turunan curam.

Setelah accident tersebut, kami pun melanjutkan gowes yang kali ini di dominasi dengan tanjakan-tanjakan lumayan. Banyak peserta gowes yang turun dari sepeda dan berjalan menuntun sepeda untuk melewati tanjakan. Termasuk saya. :).

Saat angka jarak tempuh edmondo menunjukkan 3 km, Jantung mulai berdebar-debar kencang, penglihatan mulai kabur, badan terasa melayang. Saya terkulai lemas, tidak bertenaga dan pusing. Setelah gowes sejauh 3 km, tidak ada tanda-tanda keringat mau keluar dari tubuh. Berarti badan memang benar-benar ndak beres. Kata-kata temen tadi sewaktu start kalau gowes dan keringetan berarti sudah sembuh ada benarnya juga. Akhirnya, white flag! . Saya memutuskan tidak meneruskan gowes, duduk bersimpuh mengatur nafas sambil menunggu petugas sweeping menjemput.

“Mas, mau balik atau ikut ke atas (warung bandrek maksudnya)” tanya bapak petugas sweeping setelah menaikkan sepeda saya ke mobil. Saya yang memang mentargetkan bisa singgah di warung bandrek pun menjawab, “ikut naik aja pak”. Jadilah saya naik mobil ke warung bandrek.

Setiba di warung bandrek, sudah banyak peserta yang sampai. Terpancar wajah-wajah gembira dan puas ,bisa menaklukkan medan yang lumayan berat. Terlihat mereka sangat menikmati bandrek dan jagung rebus yang disiapkan panitia. Beberapa dari mereka foto-foto narsis, mungkin akan diupload di facebook.

581271_10201059223022561_1606876646_n

IMG-20131109-00636 IMG-20131109-00204

Lha saya? Sama sekali tidak ada kebanggaan, apalagi kebahagiaan lha wong saya hanya menyelesaikan seperlima rute, sisanya naik mobil. Bahkan bandrek yang sejak kemarin saya penasaran bagaimana rasanya,terasa biasa cenderung pahit, padahal kata orang-orang rasanya nikmat (pake banget). Saat foto session pun, saya tidak mengeluarkan senyum dan jempol saya yang khas itu. Tenggelam bersama panasnya badan dan pusingnya kepala.

Setengah jam lebih di warung bandrek, para peserta kembali gowes kembali ke PLTA Bengkok. Kali ini yang ada hanya rute turunan, sehingga bapak-bapak yang tadi sepedanya dinaikkan mobil karena ndak kuat nanjak sekarang menggowes sendiri sepeda mereka. Sedangkan saya, masih tetap ikut mobil. Untuk turun pun sudah tidak ada lagi tenaga buat gowes.

Kira-kira jam 12.00  peserta gowes tiba kembali di PLTA Bengkok lalu makan siang. Mereka yang rumahnya dekat dengan PLTA langsung pulang setelah makan siang. Sedangkan peserta dari jauh,  membersihkan diri dulu lalu istirahat  menyiapkan tenaga untuk perjalanan kembali.

——————————

Laa yukallifullahu nafsan illaa wus’aha. Alloh tidak akan membebani manusia kecuali sesuai kemampuannya. Salah satu ayat Al Quran yang begitu indah, penyemangat bagi setiap orang yang ingin melakukan sesuatu sampai pada batas kemampuannya.

Tetapi ayat tersebut bukan berarti menyuruh kita melakukan hal-hal yang memang tidak mungkin kita lakukan karena situasi dan kondisi. Contohnya saya, sudah tau sakit masih aja memaksakan diri untuk ikut gowes yang rutenya tanjakan. Begitulah akhirnya, bukan kepuasan yang didapat tapi malah sakit yang semakin menjadi. 🙂

Visi Misi, pentingkah?

Bismillahirrohmanirrohiim

Sobat, pernahkah kalian membayangkan akan berlayar di lautan? ketika jangkar diangkat, layar dikembangkan kalian akan terapung di hamparan samudra biru. Setelah di tengah samudra, kalian tidak tahu kemana kalian akan berlabuh? kalian hanya berlayar mengikuti angin berhembus. Oke kalau angin membawa kalian ke daratan, kalau angin hanya mengombang-ambing kapal di samudra sampai kalian kehabisan bekal makanan?

Begitulah orang yang dalam mengarungi bahtera kehidupannya tanpa visi, tanpa tujuan yang jelas. Visi dalam bahasa sederhana adalah tujuan atau cita-cita mau seperti apa kita nanti. Ibarat berlayar, visi adalah tujuan pelayaran misalnya mengelilingi dunia dalam 10 bulan. Visi sangat penting bagi suatu organisasi yang berisikan orang-orang dengan karakter dan keahlian yang berbeda. Adanya visi ini dapat menyatukan tujuan orang-orang tersebut dengan peran nya masing-masing dalam mencapai visi.

Sedangkan misi adalah langkah-langkah, strategi-strategi yang disusun untuk mewujudkan visi. Dalam berlayar yang visinya adalah mengelilingi dunia dalam 10 bulan, maka misi-misi nya adalah mempersiapkan kapal dan awak kapal yang tangguh, mempersiapkan bahan makanan dan bahan bakar yang cukup sebelum berlabuh di pelabuhan pertama, membuat dokumentasi sepanjang perjalanan, bulan pertama sudah sampai di pelabuhan A untuk mengisi bahan bakar dan bahan makanan, bulan kedua sudah sampai di pulau B dan seterusnya sampai bulan kesepuluh kembali ke Indonesia dengan seluruh awak kapal selamat.

Begitu pentingnya visi misi sehingga pada setiap organisasi pasti memiliki visi misi yang jelas. Visi harus dibuat oleh pemimpin organisasi  dan manager menyusun misi-misi untuk mewujudkan visi. Ibarat suatu pertunjukan orkestra, untuk menghasilkan simfoni yang bagus, seluruh pemainnya harus berharmonisasi dalam membawakan lagu yang diinginkan.

Hal ini, juga berlaku dalam ikhtiar membangun miniatur organisasi dalam kehidupan, rumah tangga. Jika (calon) suami dan (calon) istri tidak mempunyai visi misi yang sama, bisa ditebak kapal mereka akan oleng tidak tentu arah, harmonisasi orkestra mereka tidak akan menghasilkan simfoni yang indah.

Jadi pentingkah visi misi itu? bagi saya, iya!

nano nano di kereta

Bismillahirrohmanir rohiim

‘Mas, turun mana?’ Tanya seorang bapak yang duduk di hadapanku. ‘Surabaya pak’ jawabku. ‘Jakartanya mana mas?’ Tanya beliau lagi. ‘Depok pak’, sahutku sambil tersenyum. Sejenak beliau mengamatiku yang membawa ransel, memegang novel sang pemimpinya andrea hirata dan memakai jaket hijau kesayanganku. ‘Kuliah ya mas? Semester berapa?’ . Sontak ku sedikit terkejut, lalu terbersit senang di hati. Di 28 is my age ini, masih ada yang menganggapku anak kuliahan. Alhamdulillah, aku terlihat muda. Paling tidak versi bapak tadi. ‘Ndak pak, saya sudah kerja kok pak’. Jawabku sumringah.

Di dalam kereta, kalau tidak persiapan bekal makanan, tidak usah khawatir. Banyak penjual makanan dan minuman yang hilir mudik (sekarang sudah tidak ada, asongan dilarang nyari nafkah di kereta!). Aku punya pengalaman menyenangkan dengan pedagang asongan kereta. Karena lapar, aku celingak celinguk mencari penjual pecel. Kenapa pecel? Tidak nasi goreng atau rames? Alasan sederhananya adalah ada sayur nya. Empat sehat lima sempurna sob. 🙂 . ‘Bu, pecel nya satu ya.’. Aku mencegat penjual pecel yang lewat. Ibu separuh baya itu pun dengan cekatan membuat pincukan daun pisang, memotong lontong dan bakwan, mengambil sayur kangkung, turi dan kubis lalu menyiramnya dengan bumbu kacang. ‘Enam ribu mas’ . Ku serahkan uang lima ribuan dan dua ribuan. Ibu itu mengecek uang di dompetnya, ternyata uang seribuan untuk kembalian tidak ada. ‘Cah ganteng, yang seribu bakwan aja ya? Mau?’ Kata ibu tadi sambil senyum dan bersiap memotong bakwan ke pincukan ku. Aku pun membalasnya dengan senyuman yang lebih lebar dari senyumnya dan berkata ‘iya bu, ndak apa-apa’ . Entah ada modus apa dari ibu penjual pecel tadi, tapi beliau termasuk dari sedikit orang yang pernah memanggilku ‘Cah Ganteng’. Dan hatiku berbunga-bunga. Alhamdulillah 😀

Ada juga kejadian konyol, sobat pasti tau kan kalau (dulu) pengamen itu jadi hiburan murah di pengapnya gerbong kereta (setali tiga uang dengan asongan, pengamen dilarang ngamen di kereta). Pengamen ini, menurut pengamatan ku ada bermacam-macam jenisnya. Ada yang tulus jadi pengamen, mereka biasanya berdua/bertiga bermodalkan gitar, kendang dan harmonika. Tidak hanya menyanyikan satu lagu, tapi bisa dua-tiga lagu yang tematik. Ada lagu pembuka, inti dan penutup. Untuk mereka, nyemplungin uang bergambar pattimura ke kantong permen yang mereka sodorkan rasanya masih kurang. Ada juga yang ga niat jadi pengamen, modal hanya botol aqua di isi pasir dan nyanyi sebisanya. Ah.. Males rasanya ngasih mereka limaratusan. Ada juga biduan yang bawa soundsystem, lalu karaokean. No komen lah ama jenis pengamen ini. Tapi jenis pengamen satu ini.. wuihh.. Dandanan menor, pake tanktop, bawa kecrekan, suaranya di mendayu-dayu kan agar terdengar lemah gemulai padahal jelas2 ada jakun di lehernya. Dan lagu favorit yang dibawakan nya ga jauh-jauh dari “ewer ewer ewer… Sedot ah crot, ewer ewer ewer’ . Sesekali dia mengedipkan mata ke penumpang sambil bilang ‘gantengg’.. Trauma aku dibuatnya! Jenis pengamen ini pasti ku hindari sampai-sampai aku pura-pura tidur dengan menutup kan jaket ke muka kalau lihat pengamen ini masuk gerbong.

Ngobrol dengan penumpang lain adalah hal yang wajar di gerbong kereta yang kursi nya masih memakai sistem tiga-dua ini. Sangat berbeda kalau naik kereta yang kursi nya dua-dua, biasanya penumpang kereta mahal ini pulas tidur saat keretanya jalan. Mungkin karena ac nya yang nyaman, kursi yang bisa dibuat rebahan dan selimutnya yang gratis. Dan diantara banyak topik pembicaraan ku dengan penumpang lain, ada satu pertanyaan yang membuat ku speechless. Pertanyaan yang dimulai dengan ‘umur berapa? Kerja dimana?’ Lalu ujung-ujungnya adalah ‘sudah menikah mas?’ .

Mengingat2 kejadian di kereta itu, kadang-kadang ku senyum sendiri dan memang hidup ini rame rasanya. 🙂

– nostalgia dengan kereta ekonomi-

indonesia vs korsel

Bismillahirrohmanir rohiim

Bagi seorang penikmat sepakbola seperti saya, menonton tim kesayangan bertanding adalah candu, apalagi kalau pertandingan itu cukup krusial. Pecandu sepakbola akan merasakan resah,gelisah dengan berpuluh pertanyaan di kepala seputar pertandingan. Siapa pemain yang diturunkan? Main nya bagus apa ga? siapa yang jadi wasit? Berapa skor update? Dan banyak lagi pertanyaan yang berputar-putar dan hanya bisa dijawab dengan menonton langsung pertandingan tersebut.
Seperti saat ini, timnas U-19 sedang bertanding melawan salah satu kekuatan sepakbola asia, timnas korsel untuk memperebutkan tiket putaran final piala AFC U-19 di Myanmar.
Saya yang dalam perjalananan pulang kampung naik kereta api tidak bisa menonton perjuangan Evan Dimas cs memperebutkan tiket final piala AFC karena memang kereta api tidak menyediakan fasilitas televisi. Tetapi resah gelisah saya sedikit terobati dengan teriakan komentator “ahaaayy” yang terkenal itu dari hape penumpang sebelah. Iya. Disaat smartphone berharga jutaan tidak bisa menyiarkan perjuangan timnas lawan korsel, hape analog dual sim berharga ratusan ribu itu bisa menangkap sinyal TV dan menyiarkan langsung pertandingan di pengap nya kereta ekonomi yang AC nya mati ini.
Ditengah suara penumpang lain yang ngobrol berbahasa madura, terdengar komentator berteriak ‘evan dimas!, gocek dia, shoott… Ahaaayyy. Gooollll.. 1-0 buat Indonesia bungg… ‘ Serempak penumpang tadi juga berteriak gooll sekeras-keras nya dan mengagetkan penumpang lain..

——-

Setiap ciptaan, pasti memiliki kelebihan masing-masing entah dia besar atau kecil, hitam atau putih, murah atau mahal dsb. Mungkin dalam kondisi normal, kita tidak.bisa melihat kelebihan suatu ciptaan. Tapi ada saat-saat tertentu dimana ciptaan yang kita anggap remeh akan menunjukkan kelebihannya.

——–

Batang, enam jam lagi menuju Lamongan, update skor turun minum, Indonesia 1, Korsel 1. Semoga indonesia lolos ke putaran final AFC.

Silaturahim ke Sumedang

Bismillahirrohmaniir rohiim

Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya tentang wheel chair for wildan, saya dan kang Ade akan berangkat ke Sumedang untuk mengantarkan kursi roda, hadiah dari mbak Ika, Mbak Asmi dan mas Ryan, serta sejumlah uang bantuan buat Wildan.

Sabtu jam sembilan malam, saya janjian sama kang Ade untuk berangkat ke kampung halaman kang Ade di desa Citengah, Sumedang. Rencana berangkat jam sembilan malam molor setengah jam karena kami harus menunggu salah seorang kawan, Adi, yang harus menyelesaikan tugasnya sebelum berangkat, mencuci !. (nasib bujangan :D). Mohon maaf ke kang Ade selama menunggu di mess, tidak ada suguhan karena memang lemari es lagi kosong. 🙂

Setengah sepuluh malam rombongan yang terdiri dari kang Ade, kakak kang Ade, saya dan Adi,  berangkat menggunakan mobil menuju Sumedang. Baca lebih lanjut