Ibu, izinkan aku berbakti padamu

Bismillahirrohmaniirohiim

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Umar melihat seorang pemuda yang thowaf sambil menggendong ibunya. Setelah selesai thowaf pemuda tersebut mencari Abdullah bin Umar. “Hai Abdullah bin Umar, apakah yang aku lakukan ini bisa membalas kebaikan ibuku?” tanya pemuda itu ketika berhasil menemui Abdullah bin Umar.

Abdullah bin umar lalu diam sejenak, lalu berkata “Hai pemuda, seandainya engkau sa’i antara shafa dan marwah, engkau mabit di muzdalifah, wuquf di arafah dan itu engkau lakukan sambil menggendong ibumu, maka sedikitpun tak akan bisa menggantikan satu nafas ibumu saat melahirkan”  (sumber)

Ibu, maafkan aku jika selama ini masih banyak membuatmu kecewa karena perhatian ku yang sangat kurang. Maafkan aku telah membuatmu khawatir jika telat memberi kabar, jika membuatmu bersedih akibat tingkah lakuku yang tidak sesuai , jika membuatmu… jika membuatmu… Ah, terlalu banyak yang belum bisa kuberikan untukmu.

Ibu, meskipun aku tahu, satu tarikan nafasmu saat melahirkanku belum sebanding dengan semua yang telah kuberi padamu, aku tetap saja masih perhitungan dalam membalas budi mu.

Ibu, meskipun aku tahu berkata “uff” saja dilarang agama, tapi betapa banyak kata-kata ku yang tidak berkenan di hatimu..

Ibu, meskipun engkau diam. Tidak menuntut apapun dariku. Menyimpan rapat-rapat keluh kesah mu pada ku. Bukan kewajibanmu meminta balas budi pada ku, aku lah yang wajib membalas budi mu, berbakti pada mu dengan segenap kemampuanku.

Ibu, sungguh aku ingin menjadikan mu salah satu tiket ku menggapai syurga kelak.

….celakalah dan merugilah orang yang tinggal bersama kedua orang tuanya tapi tidak membuatnya masuk surga… (HR Ahmad)

Ya Rabb, ampunilah dosa-dosa ku dan juga kedua orang tua ku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu kecil. Karuniakan mereka kekuatan iman yang kokoh, kesehatan dan juga anak-anak yang sholeh. Ya Rabb, jadikanlah hamba sebagai anak yang berbakti pada orang tua.

———

Ibu, hari ini aku akan menempuh 14 jam perjalanan sejauh 900 km dengan kuda besi. Untuk mengobati rindu. Rindu memeluk mu, rindu masakan mu, rindu nasehat-nasehat mu, rindu rumah.

Ibu jika kehadiranku di rumah bisa membahagiakan mu, semoga pulang kampung yang singkat kali ini, bisa menjadi mozaik-mozaik tiket syurga ku yang terserak.

 

*Ibu disini mewakili bapak juga*

 

 

5 thoughts on “Ibu, izinkan aku berbakti padamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s