beyond the limit

Bismillahirrohmanir rohiim

Beyond the limit

Sobat,dua minggu yang lalu saya terserang demam akibat ada virus mumps yang menyerang sistem kelenjar saya. Selain demam , inkubasi virus tersebut membuat saya pusing dan tidak doyan makan. Sebenarnya pada jumat dan sabtu minggu kemarin sudah saya jadwalkan jauh-jauh hari sebelumnya untuk ikutan gowes yang diadakan perusahaan. Gowes dari PLTA Bengkok menuju puncak warung bandrek yang terkenal di Dago, Bandung. Gowes yang rutenya hanya 15 km, tapi 75% tracknya adalah tanjakan dengan kemiringan rata-rata 45 derajat. Cukup menantang buat saya yang biasanya hanya blusukan di hutan UI dan sekitar.

Jumat pagi suhu badan masih berkisar di 35 derajat, kepala juga masih pusing. Saya hanya terbaring di kasur sepanjang pagi, recovery. Jumat siang, badan agak enakan meskipun sendi-sendi masih ngilu akibat suhu badan yang tinggi. Jumat sore, bang Dani , rekan kerja sekaligus sahabat saya itu datang ke rumah sambil menggowes sepedanya. “Ron, ayo berangkat. Demam nya jangan dibiarin, itu karena kebanyakan bengong sendirian di rumah tuh” ujarnya sambil bercanda. “gak Bang, masih recovery nih” aku menolak. “sudahlah berangkat saja, nanti toh kalo kamu gak kuat naik ambulance. Yang penting kita sampai di warung bandrek, foto-foto, beres” dia mulai menghasut. Setelah berpikir sejenak, saya pinjem sepeda dia, mencoba memutar di komplek. Baiklah, badan sepertinya masih bisa dipaksakan, pikir saya. Saya pun bergegas menyiapkan baju, sepeda dan peralatan dengan sedikit tergesa-gesa.

Berangkat dari Gandul jam lima sore, sepeda kami dinaikkan mobil Xtrada yang telah disiapkan panitia. Sepanjang perjalanan, badan saya terasa tidak beres. Suhu badan bertambah tapi rasanya menggigil dan persendian ngilu. Bahkan saat istirahat di KM 87 untuk makan, saya tidak selera. Sampai di PLTA Bengkok hampir tengah malam, pukul 23.30. Setelah menurunkan sepeda, saya langsung ke kamar, minum parasetamol lalu istirahat. Malam itu, beberapa kali saya terbangun.

Keesokan harinya, badan masih terasa tidak fit tapi lebih mendingan dibanding kemarin. Efek parasetamol dan istirahat memang cukup signifikan. Jam 7.30 acara dimulai dengan makan snack, pemanasan bersama, sambutan-sambutan dan penanaman pohon oleh bos-bos, lalu bendera startpun dikibarkan. Sebelum gowes, saya menyempatkan diri untuk makan kacang hijau, pisang, kacang, jagung dan minum suplemen. Berharap  energi nya bisa joss. J

Awal start langsung disambut dengan tanjakan yang cukup lumayan, lalu ada  dua turunan yang cukup curam. Di turunan yang curam ini, ada seorang peserta gowes yang jatuh dan mengalami patah tangan nya sehingga dia harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kami duga, bapak yang jatuh tadi baru pemula jadi goweser (terlihat dari sepeda nya yang masih kinyis-kinyis). Saking semangatnya mendapatkan turunan setelah menggowes di tanjakan, beliau lupa tidak menyiapkan rem dari awal turunan sehingga ketika sampai di turunan bawah beliau mengerem sekeras-kerasnya untuk menghambat laju sepeda tapi apa daya beliau tidak bisa menguasai sepeda sehingga terjungkal jatuh. Pelajaran buat kita agar lebih hati-hati ketika gowes, terutama turunan curam.

Setelah accident tersebut, kami pun melanjutkan gowes yang kali ini di dominasi dengan tanjakan-tanjakan lumayan. Banyak peserta gowes yang turun dari sepeda dan berjalan menuntun sepeda untuk melewati tanjakan. Termasuk saya.🙂.

Saat angka jarak tempuh edmondo menunjukkan 3 km, Jantung mulai berdebar-debar kencang, penglihatan mulai kabur, badan terasa melayang. Saya terkulai lemas, tidak bertenaga dan pusing. Setelah gowes sejauh 3 km, tidak ada tanda-tanda keringat mau keluar dari tubuh. Berarti badan memang benar-benar ndak beres. Kata-kata temen tadi sewaktu start kalau gowes dan keringetan berarti sudah sembuh ada benarnya juga. Akhirnya, white flag! . Saya memutuskan tidak meneruskan gowes, duduk bersimpuh mengatur nafas sambil menunggu petugas sweeping menjemput.

“Mas, mau balik atau ikut ke atas (warung bandrek maksudnya)” tanya bapak petugas sweeping setelah menaikkan sepeda saya ke mobil. Saya yang memang mentargetkan bisa singgah di warung bandrek pun menjawab, “ikut naik aja pak”. Jadilah saya naik mobil ke warung bandrek.

Setiba di warung bandrek, sudah banyak peserta yang sampai. Terpancar wajah-wajah gembira dan puas ,bisa menaklukkan medan yang lumayan berat. Terlihat mereka sangat menikmati bandrek dan jagung rebus yang disiapkan panitia. Beberapa dari mereka foto-foto narsis, mungkin akan diupload di facebook.

581271_10201059223022561_1606876646_n

IMG-20131109-00636 IMG-20131109-00204

Lha saya? Sama sekali tidak ada kebanggaan, apalagi kebahagiaan lha wong saya hanya menyelesaikan seperlima rute, sisanya naik mobil. Bahkan bandrek yang sejak kemarin saya penasaran bagaimana rasanya,terasa biasa cenderung pahit, padahal kata orang-orang rasanya nikmat (pake banget). Saat foto session pun, saya tidak mengeluarkan senyum dan jempol saya yang khas itu. Tenggelam bersama panasnya badan dan pusingnya kepala.

Setengah jam lebih di warung bandrek, para peserta kembali gowes kembali ke PLTA Bengkok. Kali ini yang ada hanya rute turunan, sehingga bapak-bapak yang tadi sepedanya dinaikkan mobil karena ndak kuat nanjak sekarang menggowes sendiri sepeda mereka. Sedangkan saya, masih tetap ikut mobil. Untuk turun pun sudah tidak ada lagi tenaga buat gowes.

Kira-kira jam 12.00  peserta gowes tiba kembali di PLTA Bengkok lalu makan siang. Mereka yang rumahnya dekat dengan PLTA langsung pulang setelah makan siang. Sedangkan peserta dari jauh,  membersihkan diri dulu lalu istirahat  menyiapkan tenaga untuk perjalanan kembali.

——————————

Laa yukallifullahu nafsan illaa wus’aha. Alloh tidak akan membebani manusia kecuali sesuai kemampuannya. Salah satu ayat Al Quran yang begitu indah, penyemangat bagi setiap orang yang ingin melakukan sesuatu sampai pada batas kemampuannya.

Tetapi ayat tersebut bukan berarti menyuruh kita melakukan hal-hal yang memang tidak mungkin kita lakukan karena situasi dan kondisi. Contohnya saya, sudah tau sakit masih aja memaksakan diri untuk ikut gowes yang rutenya tanjakan. Begitulah akhirnya, bukan kepuasan yang didapat tapi malah sakit yang semakin menjadi.🙂

4 thoughts on “beyond the limit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s