December Challenges

Bismillahir rohmaniir rohiim

Sungguh cepat waktu berlalu, tidak terasa sudah sampai di bulan penghujung 2013. Padahal terasa baru kemarin saya nge-blog, tapi ternyata sudah  dua tahun eksis di wepe dan menulis 100 posting. Iniadalah posting ke 101  :).  Meskipun sudah 100 posting, sepertinya masih banyak yang kurang di sana sini. Terutama kualitas tulisan yang akhir-akhir ini didominasi curcol dalam kategori catatan bujangan. 😀

Saya masih ingat, Awal-awal 2013, terjadi penurunan semangat menulis, sehingga di beberapa bulan awal 2013 kemarin hanya nulis satu postingan. Menyadari hal tersebut, pertengahan 2013, tepatnya bulan Juni, saya menantang diri sendiri untuk memposting minimal tiga tulisan di blog dan alhamdulillah, terealisasi sampai penghujung november.

Desember ini, saya mencoba menantang diri sendiri lagi. Saya tetap mentargetkan minimal tiga postingan Desember ini,  dan tantangan nya adalah, satu dari tiga tulisan tersebut akan ditulis dengan bahasa inggris ! . Meskipun besar kemungkinan akan terjadi kasus bahasa inggris ala vicky di tulisan tersebut, biarlah. Yang penting saya menulis dalam bahasa inggris. Hehehe.

Desember ini, saya juga akan mencoba menapak tilas awal mula tujuan dibuat blog ini,  untuk menuliskan ilmu-ilmu yang pernah didapatkan. Biar isinya tidak melulu curcol bujangan. 🙂 .

Tantangan lain,  sebenarnya saya ingin menulis puisi, entahlah puisi bertemakan apa, yang penting puisi. Kata pak guru, menulis puisi itu berhubungan dengan kemampuan berbahasa seseorang dan masih melekat dalam memori saya, betapa bahasa indonesia saya luar biasa WOOW  semasa sekolah dulu. Dari tiga kali ujian akhir sekolah, mulai dari EBTANAS, UNAS lalu UAN, semua nilai bahasa indonesia saya kepalanya 6. itupun buntutnya angka minimalis.  🙂

Baiklah, target sebagai blogger Desember ini telah ditentukan. Tinggal menuliskan target-target lain sebagai hamba Alloh, pekerja, dan bujangan.  Doakan saya ya!

Ohya, sobat apa target yang ingin kamu capai akhir tahun ini? 🙂

—————

Lima-20131122-00197Yes! Idea without action is worthless

Iklan

Nasyid penggugah

Bismillahirrohmanir rohiim

Sobat, setiap kita pasti pernah merasakan futur (lemah iman,red) , galau, sedih, bimbang dan sejenisnya. Memang sangat wajar kita mengalami hal-hal tersebut karena memang kita manusia ini lemah, diciptakan senang berkeluh kesah, dengan iman yang bertambah dan berkurang.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk me-recharge  kondisi rohani yang sedang drop tersebut. Mulai dari membaca Al Qur’an dan dzikir, menyendiri dan muhasabah, menghadiri taman syurga (majelis ilmu), berbagi cerita dengan sahabat, menenangkan diri dengan tafakur alam, mendengar nasyid dan banyak lagi. Setiap orang pasti mempunyai caranya sendiri dalam mengatasi turunnya kualitas rohani ini.

Dari banyak alternatif yang saya sebutkan diatas, tidak semuanya pernah saya lakukan. menyesuaikan kondisi. Akhir-akhir ini saya mengalami fenomena penyakit rohani tersebut dan salah satu obat yang cukup mujarab bagi saya saat ini adalah mendengar nasyid. Somehow, saya sedang senang mendengar forgive me nya  Maher Zain. Sepertinya lirik nya pas dengan kondisi saya yang bergelimang dosa ini. Berikut penggalan liriknya yang menurut saya cukup Jleb.

I can’t help thinking to myself
What if my time would end today, today, today?
Can I guarantee that I will get another chance
Before it’s too late, too late, too late

Bener juga kata Maher Zain, bagaimana jika hari ini adalah hari terakhir saya di dunia ini? Tidak ada yang bisa menjamin besok saya masih hidup. Baiklah, segera bangkit, tobat. Sebelum semuanya terlambat. (begitulah tafsiran saya di lirik tersebut).

Meskipun tidak semudah membalikkan tangan, tetapi memotivasi diri sendiri yang sedang dalam keadaan futur harus diusahakan, dengan cara kita sendiri.

Jadi sobat, pernahkah kalian mengalami futur tersebut? apa yang kalian lakukan? nasyid apa yang senang kalian dengarkan? boleh dishare dong. 🙂

 

*notes : however, i dont recommend you to put listening nasyid on first way to heal your soul. Put Al Qur’an, dzikr, dua, muhasabah, gathering on majelis ‘ilm and so on as your priorities. You may put listening nasyid on number ten or hundred .

 

beyond the limit

Bismillahirrohmanir rohiim

Beyond the limit

Sobat,dua minggu yang lalu saya terserang demam akibat ada virus mumps yang menyerang sistem kelenjar saya. Selain demam , inkubasi virus tersebut membuat saya pusing dan tidak doyan makan. Sebenarnya pada jumat dan sabtu minggu kemarin sudah saya jadwalkan jauh-jauh hari sebelumnya untuk ikutan gowes yang diadakan perusahaan. Gowes dari PLTA Bengkok menuju puncak warung bandrek yang terkenal di Dago, Bandung. Gowes yang rutenya hanya 15 km, tapi 75% tracknya adalah tanjakan dengan kemiringan rata-rata 45 derajat. Cukup menantang buat saya yang biasanya hanya blusukan di hutan UI dan sekitar.

Jumat pagi suhu badan masih berkisar di 35 derajat, kepala juga masih pusing. Saya hanya terbaring di kasur sepanjang pagi, recovery. Jumat siang, badan agak enakan meskipun sendi-sendi masih ngilu akibat suhu badan yang tinggi. Jumat sore, bang Dani , rekan kerja sekaligus sahabat saya itu datang ke rumah sambil menggowes sepedanya. “Ron, ayo berangkat. Demam nya jangan dibiarin, itu karena kebanyakan bengong sendirian di rumah tuh” ujarnya sambil bercanda. “gak Bang, masih recovery nih” aku menolak. “sudahlah berangkat saja, nanti toh kalo kamu gak kuat naik ambulance. Yang penting kita sampai di warung bandrek, foto-foto, beres” dia mulai menghasut. Setelah berpikir sejenak, saya pinjem sepeda dia, mencoba memutar di komplek. Baiklah, badan sepertinya masih bisa dipaksakan, pikir saya. Saya pun bergegas menyiapkan baju, sepeda dan peralatan dengan sedikit tergesa-gesa.

Berangkat dari Gandul jam lima sore, sepeda kami dinaikkan mobil Xtrada yang telah disiapkan panitia. Sepanjang perjalanan, badan saya terasa tidak beres. Suhu badan bertambah tapi rasanya menggigil dan persendian ngilu. Bahkan saat istirahat di KM 87 untuk makan, saya tidak selera. Sampai di PLTA Bengkok hampir tengah malam, pukul 23.30. Setelah menurunkan sepeda, saya langsung ke kamar, minum parasetamol lalu istirahat. Malam itu, beberapa kali saya terbangun.

Keesokan harinya, badan masih terasa tidak fit tapi lebih mendingan dibanding kemarin. Efek parasetamol dan istirahat memang cukup signifikan. Jam 7.30 acara dimulai dengan makan snack, pemanasan bersama, sambutan-sambutan dan penanaman pohon oleh bos-bos, lalu bendera startpun dikibarkan. Sebelum gowes, saya menyempatkan diri untuk makan kacang hijau, pisang, kacang, jagung dan minum suplemen. Berharap  energi nya bisa joss. J

Awal start langsung disambut dengan tanjakan yang cukup lumayan, lalu ada  dua turunan yang cukup curam. Di turunan yang curam ini, ada seorang peserta gowes yang jatuh dan mengalami patah tangan nya sehingga dia harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kami duga, bapak yang jatuh tadi baru pemula jadi goweser (terlihat dari sepeda nya yang masih kinyis-kinyis). Saking semangatnya mendapatkan turunan setelah menggowes di tanjakan, beliau lupa tidak menyiapkan rem dari awal turunan sehingga ketika sampai di turunan bawah beliau mengerem sekeras-kerasnya untuk menghambat laju sepeda tapi apa daya beliau tidak bisa menguasai sepeda sehingga terjungkal jatuh. Pelajaran buat kita agar lebih hati-hati ketika gowes, terutama turunan curam.

Setelah accident tersebut, kami pun melanjutkan gowes yang kali ini di dominasi dengan tanjakan-tanjakan lumayan. Banyak peserta gowes yang turun dari sepeda dan berjalan menuntun sepeda untuk melewati tanjakan. Termasuk saya. :).

Saat angka jarak tempuh edmondo menunjukkan 3 km, Jantung mulai berdebar-debar kencang, penglihatan mulai kabur, badan terasa melayang. Saya terkulai lemas, tidak bertenaga dan pusing. Setelah gowes sejauh 3 km, tidak ada tanda-tanda keringat mau keluar dari tubuh. Berarti badan memang benar-benar ndak beres. Kata-kata temen tadi sewaktu start kalau gowes dan keringetan berarti sudah sembuh ada benarnya juga. Akhirnya, white flag! . Saya memutuskan tidak meneruskan gowes, duduk bersimpuh mengatur nafas sambil menunggu petugas sweeping menjemput.

“Mas, mau balik atau ikut ke atas (warung bandrek maksudnya)” tanya bapak petugas sweeping setelah menaikkan sepeda saya ke mobil. Saya yang memang mentargetkan bisa singgah di warung bandrek pun menjawab, “ikut naik aja pak”. Jadilah saya naik mobil ke warung bandrek.

Setiba di warung bandrek, sudah banyak peserta yang sampai. Terpancar wajah-wajah gembira dan puas ,bisa menaklukkan medan yang lumayan berat. Terlihat mereka sangat menikmati bandrek dan jagung rebus yang disiapkan panitia. Beberapa dari mereka foto-foto narsis, mungkin akan diupload di facebook.

581271_10201059223022561_1606876646_n

IMG-20131109-00636 IMG-20131109-00204

Lha saya? Sama sekali tidak ada kebanggaan, apalagi kebahagiaan lha wong saya hanya menyelesaikan seperlima rute, sisanya naik mobil. Bahkan bandrek yang sejak kemarin saya penasaran bagaimana rasanya,terasa biasa cenderung pahit, padahal kata orang-orang rasanya nikmat (pake banget). Saat foto session pun, saya tidak mengeluarkan senyum dan jempol saya yang khas itu. Tenggelam bersama panasnya badan dan pusingnya kepala.

Setengah jam lebih di warung bandrek, para peserta kembali gowes kembali ke PLTA Bengkok. Kali ini yang ada hanya rute turunan, sehingga bapak-bapak yang tadi sepedanya dinaikkan mobil karena ndak kuat nanjak sekarang menggowes sendiri sepeda mereka. Sedangkan saya, masih tetap ikut mobil. Untuk turun pun sudah tidak ada lagi tenaga buat gowes.

Kira-kira jam 12.00  peserta gowes tiba kembali di PLTA Bengkok lalu makan siang. Mereka yang rumahnya dekat dengan PLTA langsung pulang setelah makan siang. Sedangkan peserta dari jauh,  membersihkan diri dulu lalu istirahat  menyiapkan tenaga untuk perjalanan kembali.

——————————

Laa yukallifullahu nafsan illaa wus’aha. Alloh tidak akan membebani manusia kecuali sesuai kemampuannya. Salah satu ayat Al Quran yang begitu indah, penyemangat bagi setiap orang yang ingin melakukan sesuatu sampai pada batas kemampuannya.

Tetapi ayat tersebut bukan berarti menyuruh kita melakukan hal-hal yang memang tidak mungkin kita lakukan karena situasi dan kondisi. Contohnya saya, sudah tau sakit masih aja memaksakan diri untuk ikut gowes yang rutenya tanjakan. Begitulah akhirnya, bukan kepuasan yang didapat tapi malah sakit yang semakin menjadi. 🙂

Visi Misi, pentingkah?

Bismillahirrohmanirrohiim

Sobat, pernahkah kalian membayangkan akan berlayar di lautan? ketika jangkar diangkat, layar dikembangkan kalian akan terapung di hamparan samudra biru. Setelah di tengah samudra, kalian tidak tahu kemana kalian akan berlabuh? kalian hanya berlayar mengikuti angin berhembus. Oke kalau angin membawa kalian ke daratan, kalau angin hanya mengombang-ambing kapal di samudra sampai kalian kehabisan bekal makanan?

Begitulah orang yang dalam mengarungi bahtera kehidupannya tanpa visi, tanpa tujuan yang jelas. Visi dalam bahasa sederhana adalah tujuan atau cita-cita mau seperti apa kita nanti. Ibarat berlayar, visi adalah tujuan pelayaran misalnya mengelilingi dunia dalam 10 bulan. Visi sangat penting bagi suatu organisasi yang berisikan orang-orang dengan karakter dan keahlian yang berbeda. Adanya visi ini dapat menyatukan tujuan orang-orang tersebut dengan peran nya masing-masing dalam mencapai visi.

Sedangkan misi adalah langkah-langkah, strategi-strategi yang disusun untuk mewujudkan visi. Dalam berlayar yang visinya adalah mengelilingi dunia dalam 10 bulan, maka misi-misi nya adalah mempersiapkan kapal dan awak kapal yang tangguh, mempersiapkan bahan makanan dan bahan bakar yang cukup sebelum berlabuh di pelabuhan pertama, membuat dokumentasi sepanjang perjalanan, bulan pertama sudah sampai di pelabuhan A untuk mengisi bahan bakar dan bahan makanan, bulan kedua sudah sampai di pulau B dan seterusnya sampai bulan kesepuluh kembali ke Indonesia dengan seluruh awak kapal selamat.

Begitu pentingnya visi misi sehingga pada setiap organisasi pasti memiliki visi misi yang jelas. Visi harus dibuat oleh pemimpin organisasi  dan manager menyusun misi-misi untuk mewujudkan visi. Ibarat suatu pertunjukan orkestra, untuk menghasilkan simfoni yang bagus, seluruh pemainnya harus berharmonisasi dalam membawakan lagu yang diinginkan.

Hal ini, juga berlaku dalam ikhtiar membangun miniatur organisasi dalam kehidupan, rumah tangga. Jika (calon) suami dan (calon) istri tidak mempunyai visi misi yang sama, bisa ditebak kapal mereka akan oleng tidak tentu arah, harmonisasi orkestra mereka tidak akan menghasilkan simfoni yang indah.

Jadi pentingkah visi misi itu? bagi saya, iya!