nano nano di kereta

Bismillahirrohmanir rohiim

‘Mas, turun mana?’ Tanya seorang bapak yang duduk di hadapanku. ‘Surabaya pak’ jawabku. ‘Jakartanya mana mas?’ Tanya beliau lagi. ‘Depok pak’, sahutku sambil tersenyum. Sejenak beliau mengamatiku yang membawa ransel, memegang novel sang pemimpinya andrea hirata dan memakai jaket hijau kesayanganku. ‘Kuliah ya mas? Semester berapa?’ . Sontak ku sedikit terkejut, lalu terbersit senang di hati. Di 28 is my age ini, masih ada yang menganggapku anak kuliahan. Alhamdulillah, aku terlihat muda. Paling tidak versi bapak tadi. ‘Ndak pak, saya sudah kerja kok pak’. Jawabku sumringah.

Di dalam kereta, kalau tidak persiapan bekal makanan, tidak usah khawatir. Banyak penjual makanan dan minuman yang hilir mudik (sekarang sudah tidak ada, asongan dilarang nyari nafkah di kereta!). Aku punya pengalaman menyenangkan dengan pedagang asongan kereta. Karena lapar, aku celingak celinguk mencari penjual pecel. Kenapa pecel? Tidak nasi goreng atau rames? Alasan sederhananya adalah ada sayur nya. Empat sehat lima sempurna sob.🙂 . ‘Bu, pecel nya satu ya.’. Aku mencegat penjual pecel yang lewat. Ibu separuh baya itu pun dengan cekatan membuat pincukan daun pisang, memotong lontong dan bakwan, mengambil sayur kangkung, turi dan kubis lalu menyiramnya dengan bumbu kacang. ‘Enam ribu mas’ . Ku serahkan uang lima ribuan dan dua ribuan. Ibu itu mengecek uang di dompetnya, ternyata uang seribuan untuk kembalian tidak ada. ‘Cah ganteng, yang seribu bakwan aja ya? Mau?’ Kata ibu tadi sambil senyum dan bersiap memotong bakwan ke pincukan ku. Aku pun membalasnya dengan senyuman yang lebih lebar dari senyumnya dan berkata ‘iya bu, ndak apa-apa’ . Entah ada modus apa dari ibu penjual pecel tadi, tapi beliau termasuk dari sedikit orang yang pernah memanggilku ‘Cah Ganteng’. Dan hatiku berbunga-bunga. Alhamdulillah😀

Ada juga kejadian konyol, sobat pasti tau kan kalau (dulu) pengamen itu jadi hiburan murah di pengapnya gerbong kereta (setali tiga uang dengan asongan, pengamen dilarang ngamen di kereta). Pengamen ini, menurut pengamatan ku ada bermacam-macam jenisnya. Ada yang tulus jadi pengamen, mereka biasanya berdua/bertiga bermodalkan gitar, kendang dan harmonika. Tidak hanya menyanyikan satu lagu, tapi bisa dua-tiga lagu yang tematik. Ada lagu pembuka, inti dan penutup. Untuk mereka, nyemplungin uang bergambar pattimura ke kantong permen yang mereka sodorkan rasanya masih kurang. Ada juga yang ga niat jadi pengamen, modal hanya botol aqua di isi pasir dan nyanyi sebisanya. Ah.. Males rasanya ngasih mereka limaratusan. Ada juga biduan yang bawa soundsystem, lalu karaokean. No komen lah ama jenis pengamen ini. Tapi jenis pengamen satu ini.. wuihh.. Dandanan menor, pake tanktop, bawa kecrekan, suaranya di mendayu-dayu kan agar terdengar lemah gemulai padahal jelas2 ada jakun di lehernya. Dan lagu favorit yang dibawakan nya ga jauh-jauh dari “ewer ewer ewer… Sedot ah crot, ewer ewer ewer’ . Sesekali dia mengedipkan mata ke penumpang sambil bilang ‘gantengg’.. Trauma aku dibuatnya! Jenis pengamen ini pasti ku hindari sampai-sampai aku pura-pura tidur dengan menutup kan jaket ke muka kalau lihat pengamen ini masuk gerbong.

Ngobrol dengan penumpang lain adalah hal yang wajar di gerbong kereta yang kursi nya masih memakai sistem tiga-dua ini. Sangat berbeda kalau naik kereta yang kursi nya dua-dua, biasanya penumpang kereta mahal ini pulas tidur saat keretanya jalan. Mungkin karena ac nya yang nyaman, kursi yang bisa dibuat rebahan dan selimutnya yang gratis. Dan diantara banyak topik pembicaraan ku dengan penumpang lain, ada satu pertanyaan yang membuat ku speechless. Pertanyaan yang dimulai dengan ‘umur berapa? Kerja dimana?’ Lalu ujung-ujungnya adalah ‘sudah menikah mas?’ .

Mengingat2 kejadian di kereta itu, kadang-kadang ku senyum sendiri dan memang hidup ini rame rasanya.🙂

– nostalgia dengan kereta ekonomi-

7 thoughts on “nano nano di kereta

  1. Ping balik: My First Journey: Let’s Talk About Long Story | Navigasi Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s