Silaturahim ke Sumedang

Bismillahirrohmaniir rohiim

Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya tentang wheel chair for wildan, saya dan kang Ade akan berangkat ke Sumedang untuk mengantarkan kursi roda, hadiah dari mbak Ika, Mbak Asmi dan mas Ryan, serta sejumlah uang bantuan buat Wildan.

Sabtu jam sembilan malam, saya janjian sama kang Ade untuk berangkat ke kampung halaman kang Ade di desa Citengah, Sumedang. Rencana berangkat jam sembilan malam molor setengah jam karena kami harus menunggu salah seorang kawan, Adi, yang harus menyelesaikan tugasnya sebelum berangkat, mencuci !. (nasib bujangan :D). Mohon maaf ke kang Ade selama menunggu di mess, tidak ada suguhan karena memang lemari es lagi kosong.🙂

Setengah sepuluh malam rombongan yang terdiri dari kang Ade, kakak kang Ade, saya dan Adi,  berangkat menggunakan mobil menuju Sumedang. Dengan prediksi perjalanan selama kurang lebih lima jam, Harapan kami pagi-pagi subuh sudah sampai di sana. Satu jam perjalanan pertama diisi dengan obrolan-obrolan ringan karena memang kami baru saja mengenal satu dan yang lain sehingga topik pembicaraan cukup banyak. Satu jam kedua, sudah mulai sepi, penumpang sudah mulai ngantuk. hehe, yang terdengar dominan hanya suara penyiar radio yang menemani sepanjang perjalanan. Dan ndak tau jam berapa, saya tidur dengan sukses, dan bangun-bangun sudah berada di Sumedang.

Sesuai harapan, kami tiba di kampung kang Ade subuh. Setelah sholat subuh, kami ngobrol-ngobrol di rumah kang Ade ditemani segelas teh hangat, gorengan, tahu goreng  dan Surabi oncom. Kombinasi yang sungguh nikmat dibalut dinginnya udara desa Citengah yang terletak di pegunungan. Terima kasih buat keluarga kang Ade yang menyambut kami dengan hangat.

IMG-20131006-00124

 

 

 

 

 

 

 

Jam delapan, kami berangkat ke rumah Wildan. Sayangnya, pak Rudi, ayah Wildan, saat itu tidak ada di tempat karena ada urusan di Bandung sehingga kami hanya bertemu dengan kakek dan nenek Wildan saja.

IMG-20131006-00107

 

 

 

 

 

 

 

 

Saat silaturahim dengan kakek nenek wildan, saya hanya bengong, karena mereka hanya bisa bicara dengan bahasa sunda yang saya tidak paham sehingga kang Ade yang menemani mereka ngobrol . Tapi dari raut muka dan intonasi bicara mereka, saya bisa merasakan ketabahan hati menghadapi semua ini.

Sungguh pelajaran hidup sangat berharga yang saya dapatkan hari itu. Kakek Nenek Wildan itu saya perkirakan usia nya 60-70 tahunan. Disaat masa tua mereka, dengan segala keterbatasan, mereka dengan ikhlas merawat cucu mereka yang mengalami disablity. Mereka bersedia meluangkan waktunya mengajak wildan jalan-jalan dengan kursi rodanya, Mereka dengan telaten menyuapi wildan makanan meskipun wildan sering memuntahkan lagi makanan tersebut, Mereka dengan sisa-sia tenaga nya mengangkat tubuh wildan yang bongsor untuk berpindah tempat, Mereka sabar mendengar teriakan wildan yang terjaga di tengah malam.. Subhanalloh, betapa kedua orang lanjut usia ini berhati emas..

IMG-20131006-00115

 

 

 

 

 

 

Guratan bahagia di wajah mereka bisa saya tangkap saat kami menyerahkan kursi roda buat wildan, hadiah dari sobat blogger dan sejumlah uang untuk keperluan sehari-hari. Mereka mengucapkan banyak terima kasih kepada kawan-kawan semua, terutama para donatur. Sebelum pamit, kami menyempatkan diri foto bersama.

IMG-20131006-00118

 

 

 

 

 

 

 

Sepulang dari rumah Wildan, Kang Ade mengajak kami untuk makan siang bersama di curug grobogan, Curug grobogan adalah air terjun kecil yang terdiri dari tiga tingkat dengan ketinggian masing-masing tingkat kurang lebih lima meter. Curug ini ternyata cukup populer di Sumedang, hal ini bisa saya lihat ketika disana pengunjung curug yang didominasi anak muda, lumayan banyak.

Kami berangkat ke curug grobogan naik mobil bersama keluarga kang Ade. Dua keponakan kang Ade, Iqbal dan Satria, juga ikut bersama kami ke Curug tersebut. Sesampai di curug, kami bermain air sejenak, menyempatkan diri foto-foto sebagai tanda bahwa kita pernah ke sana. (like usual). :p

IMG-20131006-00136IMG-20131006-00141

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puas bermain air dan foto-foto, kami pun menyantap makan siang yang telah disiapkan keluarga kang Ade. Sekali lagi, kombinasi yang nikmat saya rasakan. Perut lapar, sepiring nasi, ikan emas, tahu tempe, kerupuk dan sambel. Ditemani suara gemiricik air, kami pun ngobrol ngalur ngidul dengan hangat. Saking niikmatnya, saya tidak sadar kalau saya sudah tiga kali me-reload piring nasi di tangan. haha

IMG-20131006-00143

 

 

 

 

 

 

 

Pukul sebelas, kami pulang ke rumah kang Ade, istirahat sejenak sebelum kembali ke Jakarta pukul satu siang. Alhamdulillah, perjalanan lancar dan maghrib kami sudah sampai di rumah.

——-

buat kang Ade, terima kasih atas semuanya. semoga Alloh melindungi antum dan keluarga. Semoga next time kita main ke Sumedang lagi ya.🙂

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.(HR Bukhori dan Muslim, hadits Arbain ke-15)

10 thoughts on “Silaturahim ke Sumedang

  1. Ping balik: Alhamdulillah…. [Maha Besar Allah dengan Segala Kasih SayangNya] | araaminoe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s