Cuci Piring

Bismillahirrohmaniir rohiim

Hidup bersama orang lain yang bukan keluarga kita dalam satu atap itu seru. Kita harus saling menyesuaikan diri satu dengan yang lain agar keharmonisan dalam rumah (baca: mess) terjaga. Saya  yang kurang suka mendengar musik dari speaker harus bisa mentolerir sahabat saya yang suka menyetel musik dari radio atau mp3 yang dicolokin ke speaker simbadda miliknya. Defaultnya saya males keluar rumah dan sekarang jadi sering diajakin keluar sahabat saya, entah jalan kemana. Kalau kedua sahabat saya tadi sukanya makan di rumah (entah beli di warung lalu dibungkus dibawa pulang atau masak sendiri), saya lebih suka menikmati makanan di warung. Dan masih banyak lagi perbedaan-perbedaan kecil lainnya, termasuk satu hal sensitif ini, bersih-bersih rumah!

Sebenarnya tidak ada kesepakatan dari kami sih kapan dan siapa yang harus bersih-bersih mess, kesadaran masing-masing saja. Tapi karena kedua sahabat saya masuk kerjanya reguler dan tidak punya cukup waktu untuk bersih-bersih mess kecuali sabtu minggu, maka saya  merasa punya tugas khusus untuk bersihkan rumah saat saya libur atau tidak piket pagi. Lha mana mungkin rumahnya tidak disapu, dipel selama lima hari? Atau tumpukan piring bekas makan dibiarin, nunggu hari sabtu minggu tuk dicuci? Wah bisa jadi kuman-kuman nakal beranak pinak di tempat cucian piring.

Suatu waktu, saya pulang piket malam dalam keadaan lapar dan ngantuk tentunya. Sampai rumah, saya langsung menuju dapur mencari sesuatu untuk mengganjal perut. Setiba di dapur, melihat begitu banyak makhluk di tempat cucian piring, mulai dari piring, gelas, wajan, sendok sampai tempat nasi magic jar, masih tergeletak melambai-lambai minta dibersihkan. Sepertinya sudah dua hari makhluk makhluk itu berada disana, Dan seinget saya, dua hari ini saya tidak melakukan aktivitas per-makan-an menggunakan alat-alat dapur itu.

before

 

 

 

 

 

 

 

 

Sejenak memandangi tempat cucian, tiga detik kemudian mengurut dada, tiga detik kemudian menghela nafas dalam-dalam, tiga detik kemudian ambil hp untuk capture tkp sebelum di eksekusi,  tanpa ba bi bu nyalakan keran air ambil sabun cuci merek ekonomi dan saya gosokkan spon penuh busa ke makhluk-makhluk tadi.  Saya bisa merasakan senangnya si wajan saat saya bebaskan dari kolesterol dan lemak jenuh yang ditimbulkan minyak goreng berkali-kali pakai *korbaniklan*. Saya juga bisa melihat tempat nasi magic jar (apasih sebutannya?) berterima kasih karena dia tidak lagi kedinginan direndam air selama dua hari lebih (biasanya tempat nasi ini direndam agar nasi yang nempel tidak lengket dan mudah dicuci) *korbaniklanlagi*. Alhamdulillah, prosesi cuci piring ini berlangsung selama kurang lebih lima belas menit . Dan dapur terlihat kinclong lagi.

after

 

 

 

 

 

 

 

 

Sobat, tahukah kalian, tiga detik pertama apa yang ada saya pikirkan sambil ngurut dada setelah memandangi tempat cucian tadi? Jengkel! Iya, jengkel campur dongkol, apasih susahnya langsung makan langsung dicuci tuh piring-piring? Ga nunggu numpuk dulu?

Tapi tiga detik kemudian, saya berdamai dengan diri sendiri, gak usah mengeluh! , kalau gak nyaman dengan pemandangan itu ya bersihkan, ndak usah nyari-nyari kesalahan orang lain. Dan selama lima belas menit proses pencucian piring itu, saya mencoba mengambil hikmah dari kejadian pagi ini. Ternyata banyak hikmahnya lhoo…

Pelajaran pertama, kejadian ini mengajarkan saya arti “tanpa pamrih”. Dan tentu saja “tanpa pamrih” itu adalah suatu proses yang berat.  Saya dongkol saat pandangan pertama, wajar. Tetapi setelah berdiskusi dengan nurani, ya kerjakan saja :)  . Kalau ingin melatih kerja “tanpa pamrih”, cobalah mengerjakan pekerjaan orang lain dan janganlah kalian sebut-sebut apa yang telah kalian lakukan itu, apalagi didepan orang nya langsung.

Pelajaran kedua adalah tentang mulianya profesi wanita sebagai ibu rumah tangga. Bagi yang belum pernah mencuci baju atau piring sendiri, silahkan dicoba kegiatan tersebut dan akan kita temukan kolaborasi antara capek, jorok dan bosan. Tetapi lihatlah para ibu rumah tangga,mereka tidak pernah mengeluh akan tugas harian nya yang mulia itu. Saat mencuci piring itu pun saya bergumam pada diri sendiri, nanti kalau sudah menikah saya akan menjadi partner bagi istri dalam hal kebersihan rumah, meskipun hanya dengan mencuci piring.😀

Dan yang ketiga, An-nadhafatu minal iimaan. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Semoga yang saya lakukan termasuk salah satu bentuk ibadah.

~ semoga bermanfaat ~

*cerita ini hanya terjadi sesekali, tidak suatu kebiasaan. Jadi mohon maaf buat sahabat ane yang (kebetulan) baca tulisan ini :D*

18 thoughts on “Cuci Piring

  1. udah betul tuh mas abis makan biasain langsung cuci piring masing2. sekalian latihan, krn gak semua wanita loh suka cuci piring tapi sukanya masak aja misalnya. jd masnya juga nanti gak kagok bantu2 istri didapur, begitu…

    salam
    /kayka

  2. bener2 kerja keras tuh… barnag kator kalo gak segera dibersihin pasti bakal tambah nyusahin, jadi lebih baik dibersihin saja sejak awal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s