Bahan Haram Menurut Syari’at Dalam Makanan (#1)

Bismillah

Semoga kita senantiasa dijaga Alloh dari sesuatu yang haram masuk ke tubuh kita.

Setiap kali ada peredaran bahan makanan yang mengandung BABI di pasaran, umat islam pasti heboh. setelah dulu heboh kisah ajinomoto, dilanjut dengan masako, lanjut lagi es krim magnum dan yang mutakhir adalah kasus bakso Sapi plus Babi. Memang makanan haram bagi umat islam tidak boleh masuk ke tubuh, banyak hadits dan juga Al Quran yang menegaskan hal ini. AKibat makanan haram masuk ke tubuh pun tidak main-main, mulai dari daging yang tumbuh akibat makanan haram adalah bahan bakar neraka kelak di akhirat, do’a tidak dikabulkan dan hidup tidak berkah.

Karena begitu dahsyat efek makanan haram ini, kita umat muslim harus waspada dan hati-hati pada makanan yang masuk ke tubuh kita.  Saat ini, di pasaran banyak beredar produk (dan bahan baku penyusun) makanan, obat, kosmetika yang diragukan kehalalannya menurut syariat Islam. Apabila mengacu pada beberapa ayat dalam Kitab Suci Al Qur’an (QS. 2 : 219, 2 : 172-173, 5 : 3, 5 : 90, dll) dan Hadis Nabi SAW, maka beberapa di antaranya dipastikan jelas-jelas haram.

Beberapa produk dan atau bahan baku (ingredient) penyusun produk makanan, obat, dan kosmetika tersebut di antaranya adalah : Baca lebih lanjut

Konsep Muhasabah dalam ber Muamalah (#4)

Bismillah

Sobat blogger, semoga Alloh selalu merahmati dan melindungi kita.

muhasabahDalam kehidupan sehari-hari, rasa-rasa nya kita tidak bisa berlepas dari yang namanya hitungan atau bilangan , Coba dicermati hidup kita diukur dengan hitungan detik jam, untuk berbisnis kita hitung berapa angka untung ruginya, Untuk makan, rekreasi, menikah, menyekolahkan anak  sampai meninggal pun semua tidak lepas dari hitungan. Memang banyak dari hidup ini, hitungan itu identik dengan uang atau sesuatu yang terukur lainnya.

Terlepas dari hitungan-hitungan yang berkenaan dengan keduniaan itu, kita manusia juga harus hitung-hitungan dengan amalan-amalan kita dalam rentang waktu tertentu entah harian, mingguan, bulanan ataupun tahunan. Amalan-amalan yang saya maksud disini tidak hanya amalan ibadah, tapi juga amalan dosa. 🙂 . Konsep menghitung amalan sehari-hari ini lebih populer disebut dengan muhasabah.. yap, muhasabah sobat blogger !!

Muhasabah bisa menjadi panduan bagi kita untuk mengkoreksi diri sendiri agar menjadi lebih baik, di hadapan makhluk dan juga tentunya Sang Khalik, Alloh swt. Dengan me-muhasabah diri, kita bisa meningkatkan semua potensi dalam diri untuk menjadi pribadi muslim yang luar biasa, dan juga untuk menerapkan strategi yang tepat untuk menggapai tujuan akhir hidup di dunia ini yaitu ridho Alloh yang ujung-ujungnya adalah kenikmatan abadi di syurga..

Bagaimana cara atau langkah-langkah dalam muhasabah?? berikut sedikit ilmu yang bisa diterapkan dalam rangka me-muhasabah diri dalam sehari…

1. Hitung-hitungan berapa banyak perintah Alloh yang kita kerjakan hari ini

2. Hitung-hitungan berapa banyak larangan Alloh yang kita langgar hari ini

3. Hitung berapa banyak amanah yang Alloh titipkan pada kita dan seberapa jauh kita menjaganya.

4. Hitung berapa banyak tindakan kita yang menyakiti perasaan orang lain (puentiingg nih)

Sobat blogger pasti pernah dengar (atau baca) kalau kita berbuat dosa kepada Alloh, maka dengan bertobat, Alloh akan mengampuni dosa kita.. tapi kalau kita berbuat dosa pada sesama manusia, maka dosa kita pada manusia tersebut tidak dihapus selama kita tidak dimaafkan !!! nah lo…

Simak hadits yang luar biasa berikut

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya : Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut ( pailit ) itu ? Maka mereka ( para sahabat ) menjawab : orang yang pailit di antara kita adalah orang yang tidak mempunyai uang dan harta. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan : orang yang pailit dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakatnya, namun dia datang dan (dahulu di dunianya) dia telah mencela si ini, menuduh (berzina) si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu dan telah memukul orang lain ( dengan tidak hak ), maka si ini diberikan kepadanya kebaikan orang yang membawa banyak pahala ini, dan si itu diberikan sedemikian juga, maka apabila kebaikannya sudah habis sebelum dia melunasi segala dosanya ( kepada orang lain ), maka kesalahan orang yang didzalimi di dunia itu dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke api neraka. (HR. Muslim)

Membaca hadits diatas, maka wajib bagi kita agar senantiasa menghitung-hitung berapa banyak kira-kira orang yang tersakiti akibat ucapan perbuatan kita, baik sengaja maupun tidak sengaja. Meskipun yang kita sampaikan itu adalah kebenaran, kita tetap tidak boleh menyampaikan kebenaran itu dengan cara-cara yang tidak santun, keras, brutal dan anarki (lebai, hehe). Iya benar!! kita menyampaikan kebenaran pada orang lain, dapat pahala. Tapi jika Cara menyampaikannya menyakiti orang lain, dapat dosa !!! dan kalau orang tersebut tidak memaafkan (atau kita tidak minta maaf) maka bisa jadi kita masuk kedalam golongan bangkrut seperti hadits diatas…

Ayo sobat blogger, kita hitung sudah berapa orang kah yang “kira-kira” tersakiti oleh tindak tanduk tulisan ataupun ucapan kita?? sengaja atau tidak sengaja!!  kalau dari perenungan sobat blogger memang ada orang yang sekiranya tersakiti… SEGERA MINTA MAAF padanya agar tidak bangkrut di akhirat nanti..

be aware of ghibah, su’udzon, mencaci maki, fitnah, candaan berlebihan (biasanya mengenai fisik atau ekonomi orang lain), mengumpat, menghardik, menuduh, dan sebagainya –> sungguh lisan ini lebih tajam dari pedang, dan jika ia sudah keluar tidak bisa kita tarik kembali…

-Saat ini, poin 4 dulu yang saya tulis agar konten tulisan tidak panjang (pengalaman pribadi, baca tulisan panjang di blog dalam satu judul, sayanya males baca) :p. poin 1,2 dan 3 bersambung di tulisan selanjutnya (kalo gak males) :)-

– sumber : Kajian akhlak Abi Makki di Masjid Perumahan Bona Indah Jaksel,  dengan bahasa saya sendiri dan bumbu2nya

– semoga bermanfaat

— w — a — k — t — u —-

Bismillah

Assalamu’alaykum

Teringat cerita ibu tentang bagaimana sekaranag waktu ini berjalan sangat cepat..

Dulu, pada tahun 1990an, saat ibu berusia 30 tahunan, ibu yang hobi menjahit bisa menyelesaikan tiga pakaian kebaya dalam jarak dhuhur sampai ashar. Sekarang, jangankan satu pakaian, setengah saja tidak bisa.. ujar ibu.

Dulu, jarak antara ashar dan maghrib terasa begitu lama, sehingga kalo puasa itu bener-bener terasa lapernya, kalo sekarang mek sak wess an (sekejap saja) sudah tiba waktu maghrib.. cerita ibu

Dulu, rasanya lamaa banget nunggu hari raya idul fitri tahun depan, sekarang tidak terasa apa-apa idul fitri datang begitu cepat dan juga pergi begitu cepat… masih cerita ibu

itulah beberapa kalimat yang saya ingat waktu ngobrol-ngobrol dengan ibu saya beberapa bulan lalu… Kalau dirasa-rasa, memang benar juga obrolan ibu ini. Bagi saya, putaran waktu sekarang terasa sangat cepat.. padahal kalau saya amati putaran detik jam dinding yang usang itu, detikannya sama dengan beberapa puluh tahun lalu. tidak ada yang berubah. Lalu kenapa bisa waktu terasa berlalu begitu cepat ?? Apakah ini yang dinamakan nikmat waktu mulai dicabut pelan-pelan ?? atau apakah saya yang kufur terhadap nikmat, yang kebanyakan orang lupa ini, sehingga waktu yang diberi kepada saya tidak pernah saya syukuri dan terasa berlalu dengan cepat?? Astaghfirulloh..

Ada ucapan yang berbunyi, waktu itu bagaikan pedang .. kalau diresapi ucapan ini, memang benar waktu bisa diibaratkan pedang yang sewaktu-waktu bisa mengambil kita dari kehidupan dunia ini… Kalau kita tidak waspada, pedang itu akan mencabut nyawa kita dimana kita belum mempersiapkan semuanya untuk perjalanan abadi d akhirat..

Waktu…  Alloh pun bersumpah dalam Al Quran mengenai waktu ini,

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr 1-3).

Surat yang pendek, tapi makna nya sangat dalam dan bisa jadi bahan perenungan yang mendalam… Masa (waktu) adalah sesuatu yang jika kita tidak waspada dengan nya maka kita benar-benar dalam keadaan rugi, kenapa?? kalau kita mengisi banyak dari porsi  waktu-waktu kita dengan perbuatan yang jauh dari kriteria mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran. maka kelak kita akan merugi.. ayat itu pun ada syaratnya,kita harus beriman… kalau mengerjakan amal sholih dst tapi tidak beriman, berarti tetap saja kita merugi.

Kembali kepada “terasa” cepatnya waktu berlalu.. seperti apa yang saya inginkan untuk mengisi waktu yang ibarat pedang ini???

 

#menampar diri sendiri

Semoga bermanfaat