Uang recehan di FB

Bismillah

Hari ini saya membaca status menarik dari teman yang ada di FB saya, dia meng share sebuah link yang kurang lebih intinya adalah kritik membaca doa buka puasa dengan bacaan Allohumma laka shumtu dst. Menurut link tersebut, membaca doa Allohumma laka shumtu yang diucapkan kebanyakan orang adalah berasal dari hadits dhoif, tidak boleh diamalkan. Doa yang benar menurut hadits shohih adalah dzahabadh dhomaau dst.

Kalau saya cermati, ternyata kalau kita update status di FB yang satu tipe dengan update status temen saya ini, akan berujung “rame”. Pasti banyak komentar  pro dan kontra. Ujung-ujung nya bertukar dalil dst.

Mereka yang semenjak kecil belajar agama instan dari kyai atau orang tua nya pasti berkomentar kontra karena ternyata amalan yang mereka lakukan puluhan tahun di “salahkan” orang lain. Itukan doa juga, Nabi menganjurkan kita berdoa kan? isi doa nya kan terserah kita selama tidak bertentangan dengan syariat. Apakah Allohumma laka shumtu dst artinya bertentangan dengan syariat?. kurang lebih seperti itulah isi komen mereka yang kontra. Mereka yang mengedepankan studi ilmiah dalam agama akan komentar pro karena inilah kebenaran menurut mereka yang harus diungkap. doa ini tidak pernah diajarkan Nabi, dan kalau diucapkan berulang-ulang di waktu yang sama ketika berbuka berarti telah menyelesihi sunnah dst. kurang lebih seperti ini isi komen kelompok pro. Ujung-ujung nya tidak ada konklusi, hanya menghasilkan debat.

Saya tidak menyalahkan mereka yang update status tentang khilafiyah dalam beragama, hal ini adalah dakwah dan masih lebih bermanfaat dibandingkan update status gak jelas seperti G.A.L.A.U di FB.🙂 , Memang seharusnya update status di FB ini lebih didominasi sharing ilmu agama atau informasi lain yang berguna.

Kembali ke cerita update status teman saya tadi, saya jadi teringat hasil kesimpulan saya setelah diskusi dengan beberapa teman dan mendengar pengajian-pengajian dari berbagai latar belakang, mulai dari salafi, tarbiyah, Hizib, NU dll. Menurut kesimpulan saya yang awam ini, semua ulama’ dan penceramah sepakat bahwa sebelum beramal dalam agama, kita harus tahu ilmu nya. Ini poin penting. Jangan Beramal kalau tidak Berilmu.

Nah, perbedaan akan muncul ketika dalil yang digunakan dalam beramal dibandingkan. Dalil dan kaidah hukum yang diambil oleh pengikut salafi sangat berbeda dengan pengikut NU. Secara ringkas, teman-teman salafi tidak bisa mentolerir amalan ibadah yang tidak ada dalil nya, atau menggunakan dalil palsu dan lemah. Bagi mereka amalan yang tidak ada dalil shohih nya adalah bid’ah. Kalau teman-teman NU, beda lagi. Teman-teman NU ini dalam praktek beribadah,ada yang menggunakan dalil-dalil umum dalam beribadah sehingga nantinya budaya jawa yang melekat di masyarakat tidak dihilangkan begitu saja. Begitu juga orang dengan latar belakang lain, mempunyai cara pengambilan dalil sendiri. (saya mengambil contoh NU dan salafi karena yang sering saya jumpai adalah dua latar belakang ini)

Contoh perbedaan yang pernah saya denger waktu ikut pengajian nih,

ada orang yang beraliran non-NU bilang kalau membungkukkan badan ketika lewat depan orang tua itu bid’ah! dekat dengan syirik ! orang hanya boleh rukuk kepada Alloh swt saja. toh Nabi SAW juga tidak pernah mengajarkan kita untuk membungkukkan badan didepan orang tua??

orang yang beraliran NU pun akan membalas, itu bukan bid’ah! apalagi syirik!. Bukankah islam memerintahkan kita untuk menghormati orang tua? di Jawa ini, membungkukkan badan ketika berjalan di depan orang tua adalah salah satu bentuk penghormatan. jadi dimana bid’ah nya? dimana syirik nya? budaya di Arab tempat Rasul lahir dulu berbeda dengan budaya di tempat kita bung !!

Contoh lain dalam perbedaan

orang yang beraliran non-NU berkata  Makam yang letaknya dekat masjid itu musyrik !! Rasul melarang kita sholat di tempat yang di dalamnya ada kuburan!!

orang yang beraliran NU mejawab, kuburan nya kan tidak di dalam masjid? Musyrik darimana nya? Masjid ini dibangun berdekatan dengan kuburan tujuan nya adalah agar ketika orang yang mau sholat, melewati kuburan ini ingat akan kematian sehingga nantinya diharapkan sholatnya khusyuk. Kita menyembah Alloh, bukan kuburan !! masihkah ini dinamakan musyrik?

saya yakin masih banyak perbedaan-perbedaan dalam beribadah di tengah-tengah umat ini, terlebih di Indonesia. Kalau sesama umat islam seperti ini, bagaimana ujung cerita persatuan umat nanti? Seharusnya kita sama-sama dewasa menyikapi perbedaan di tengah-tengah umat, terlebih lagi kita yang notabene nya “kemarin sore” dalam belajar agama. Jangankan ilmu hadits, ilmu fiqih aja kita masih belum bisa apa-apa ? kita belum kompeten untuk berdiskusi mendalam tentang agama. Jangan membuka perdebatan bidang agama ! Jangan suka menyalah-nyalah kan mereka yang cara beribadah nya berbeda dengan kita kalau belum seratus persen yakin ibadah mereka salah. Tapi kalau sudah menyangkut penyimpangan akidah dan tauhid, ini tidak bisa ditolerir !

Memang setiap muslim wajib berdakwah, tapi harus sesuai kapasitas nya. Kalau kapasitas seperti kita yang hanya mengutip dari buku atau ikut pengajian-pengajian umum tanpa mendalami ilmu fiqih, hadits dst, berdakwah lah dengan cara mengamalkan amalan yang kamu yakini benar, tidak usah mengkoreksi orang lain dulu, lha wong diri sendiri aja masih harus dikoreksi kok?

Saya masih ingat analogi sederhana yang disampaikan seorang ustadz.

Dalam kaleng, terdapat uang 100 ribu, 50 ribu, 20 ribu, 10 ribu, 5 ribu, 2 ribu, 1 ribu, 5 ratus, 1 ratus. Uang-uang dalam kaleng tersebut kalau bergesekan, suara yang paling kencang terdengar adalah suara recehan nya. Jadi kita termasuk yang mana nih? uang recehan? ribuan? atau ratusan ribuan?

Jadi kita harus lebih selektif dan berhati-hati dalam mengupdate status di sosial media yang berkenaan dengan khilafiyah agama. Kalau kebanyakan kita ini masih recehan, maka suara yang keluar akan nyaring terdengar…

Hasil perenungan yang lama setelah saya sendiri pernah berdebat dalam khilafiyah agama, padahal saya masih recehan. Dan memang benar, suara yang saya keluarkan waktu itu sangat nyaring..

Kalau ada yang mau mengkoreksi, silahkan.. saya hanya berusaha menjadi lebih baik.🙂

13 thoughts on “Uang recehan di FB

  1. Kunjungan balik Akhi……setuju banget dengan pendapatnya, sebagai pribadi kita harus yakin dengan dalil yang kita gunakan dalam ibadah, tetapi dalam tataran ilmu kita juga harus meyakini bahwa banyak dalil2 lain yang belum kita ketahui ilmunya.

  2. like deh mas…
    temen saya sampai saat ini masih ada yg memperdebatkan masalah jatuhnya 1 ramadhan
    saling beradu pendapat di fesbuk
    pusing deh saya bacanya :mrgreen:

  3. Suka sekali dengan pembahasan seperti ini. Menghindari perdebatan yang bersifat cabang, tetapi tegas dengan hal aqidah. Karena orang mempunyai keyakinan masing-masing. Bukan taklid buta, dan pada intinya ilmu sebelum beramal memang sangat dibutuhkan sekali.
    Nice share😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s