Memulai Istiqomah Sholat Berjamaah?? Why Not??

Bismillah

 

Sayup-sayup terdengar adzan dari kamar mess tempat aku tinggal. ku lihat jam di handphone menunjukkan pukul 04.20, sudah masuk waktu shubuh. dengan mata masih berat terbuka, ku paksa diri ini menuju kamar mandi untuk berwudlu.Segera setelah itu, ku pakai sarung, koko dan kopyah berangkat menuju masjid yang terletak tidak jauh dari mess.

Masjid Nurul Hikmah memang hanya masjid kecil yang  sebenarnya di peruntukkan untuk karyawan perusahaan telekomunikasi yang membangun nya,  tetapi tidak jarang warga sekitar menunaikan sholat Jumat di masjid tersebut. Pada saat sholat dzuhur dan ashar biasa nya tidak kurang dua shof terisi, maklum sebagaian besar karyawan perusahaan tersebut belum pulang.  Ada kemajuan shof ketika sholat maghrib dan isya yang hanya satu shof terisi, itupun tidak penuh. Pemandangan yang tidak biasa terjadi pada saat sholat Jumat ditunaikan. Mendadak Masjid penuh sampai sampai banyak jamaah yang harus sholat di serambi masjid. Keadaan ini bertolak belakang sekali ketika sholat subuh ditunaikan, tidak kurang dari sepuluh orang saja yang sholat subuh berjamaah di masjid bahkan pernah waktu itu ditunaikan sholat subuh hanya dengan dua orang jamaah!!.

Muncul pertanyaan, sebenar nya dalam syariat islam bagaimana hukum sholat berjamaah? apakah wajib, sunah atau mubah? berikut beberapa dalil yang berkaitan dengan sholat berjamaah dan hukum sholat berjamaah di masjid menurut beberapa ulama :

1. Hukumnya fardhu kifayah.

beberapa ulama yang berpendapat ini adalah Imam Syafi’i, Abu Hanifah, jumhur ulama Syafi’iyah mutaqadimin dan banyak ulama Hanafiyah dan Malikiyah.

Adapun dalil-dalil nya adalah

hadits 1 :“Tidaklah ada tiga orang dalam satu perkampungan atau pedalaman tidak ditegakkan pada mereka shalat kecuali Syeithon akan menguasainya. Berjamaahlah kalian, karena srigala hanya memangsa kambing yang sendirian”[HR Abu dawud no 460 dan HR Ahmad no 26242].

hadits 2 : “Kembalilah kepada ahli kalian, lalu tegakkanlah shalat pada mereka serta ajari dan perintahkan mereka (untuk shalat). Shalatlah kalian sebagaiamana kalian melihat aku shalat. Jika telah datang waktu shalat hendaklah salah seorang kalian beradzan dan yang paling tua menjadi imam.[HR Bukhori no 595 dan HR Muslim no 1080]

hadits 3 : Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: Shalat berjamaah mengungguli shalat sendirian dua puluh tujuh derajat.‘”[HR Bukhori no 609]

2. Dihukumi sebagai syarat sah shalat. Shalat tidak sah tanpa berjama’ah kecuali dengan adanya udzur (hambatan).

Ini pendapat zhahiriyah dan sebagian ulama hadits. Pendapat ini didukung oleh sejumlah ulama diantaranya: Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Aqiil dan Ibnu Abi Musa. Diantara dalil mereka:

hadits 1 : Barang siapa yang mendengar adzan lalu tidak datang maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur.[HR Ibnu Majah no 785]

hadits 2 : “Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku berkeinginan untuk memerintahkan mengumpulkan kayu bakar lalu dibakar, kemudian aku memerintahkan agar adzan dikumandangkan. Lalu aku juga memerintah seseorang untuk mengimami manusia, lalu aku berangkat kepada kaum laki-laki (yang tidak shalat) dan membakar rumah-rumah mereka (HR Bukhari no  644 dan HR  Muslim no 651).

hadits 3 : ” Dari Abu Hurairah berkata, ada seorang buta datang kepada Rasulullah seraya berkata, Ya Rasulallah, tidak ada seorang yang menuntunku ke masjid, adakah keringanan bagiku? Jawab Nabi, “Ya.” Ketika orang itu berpaling, Rasulullah bertanya, “Apakah kamu mendengar adzan?” Jawab orang itu, “Ya”. Kata Nabi selanjutnya, “Kalau begitu penuhilah!” (HR Muslim no 653).

3. Hukumnya sunnah muakkad

Ini pendapat madzhab Hanafiyah dan Malikiyah. Imam Ibnu Abdil Barr menisbatkannya kepada kebanyakan ahli fiqih Iraq, Syam dan Hijaaj.

hadits 1 : Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah n bersabda: Shalat berjamaah mengungguli shalat sendirian dua puluh tujuh derajat.[HR Bukhari no 609]

hadits 2 : Sesungguhnya orang yang mendapat pahala paling besar dalam shalat adalah yang paling jauh jalannya kemudian yang lebih jauh. Orang yang menunggu shalat sampai shalat bersama imam lebih besar pahalanya dari orang yang shalat kemudian tidur. Dalam riwayat Abu Kuraib: sampai shalat bersama imam dalam jama’ah.[HR Muslim no 1064]

Imam Asy Syaukaniy menyatakan setelah membantah pendapat yang mewajibkannya: “Pendapat yang pas dan mendekati kebenaran, shalat jamaah termasuk sunah-sunah yang muakkad. Adapun hukum shalat jama’ah adalah fardhu ‘ain atau kifayah atau syarat sah shalat maka tidak”. Hal ini dikuatkan oleh Shidiq Hasan Khon dan pernyataan beliau: “Adapun hukumnya fardhu, maka dalil-dalil masih dipertentangkan. Akan tetapi disana ada cara ushul fiqh yang mengkompromikan dalil-dalil tersebut, yaitu hadits-hadits keutamaan shalat jama’ah menunjukkan keabsahan shalat sendirian seperti hadits “Orang yang menunggu shalat sampai shalat bersama imam lebih besar pahalanya dari orang yang shalat sendirian kemudian tidur. Hadits ini dalam kitab shohih.

4. Hukumnya wajib ain (fardhu ‘ain) dan bukan syarat
Ini pendapat Ibnu Mas’ud, Abu Musa Al Asy’ariy, Atha’ bin Abi Rabbaah, AL Auzaa’iy, Abu Tsaur, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibaan, kebanyakan ulama Hanafiyah dan madzhab Hambali. Dalil mereka adalah firman Allah:

1. Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata. Kemudian apabila mereka (yang shalat bersamamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu.(QS An-Nisa: 102) Dalam ayat ini terdapat dalil yang tegas akan kewajiban shalat berjamaah. Shalat jamaah tidak boleh ditinggalkan kecuali dengan udzur seperti ketakutan atau sakit.

2.Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.[QS. Al Baqarah :43]. ini adalah perintah, kata perintah menunjukkan kewajibannya.

sedangkan beberapa hadits yang menjadi dalil diwajibkannya sholat berjamaah adalah

hadits 1 : Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku berkeinginan untuk memerintahkan mengumpulkan kayu bakar lalu dibakar, kemudian aku memerintahkan agar adzan dikumandangkan. Lalu aku juga memerintah seseorang untuk mengimami manusia, lalu aku berangkat kepada kaum laki-laki (yang tidak shalat) dan membakar rumah-rumah mereka (HR Bukhari no 644 dan HR Muslim no 651).

hadits 2: .  Dari Abu Hurairah berkata, ada seorang buta datang kepada Rasulullah seraya berkata, Ya Rasulallah, tidak ada seorang yang menuntunku ke masjid, adakah keringanan bagiku? Jawab Nabi, “Ya.” Ketika orang itu berpaling, Rasulullah bertanya, “Apakah kamu mendengar adzan?” Jawab orang itu, “Ya”. Kata Nabi selanjutnya, “Kalau begitu penuhilah!” (HR Muslim no 653).

hadits 3 : “Tidaklah ada tiga orang dalam satu perkampungan atau pedalaman tidak ditegakkan pada mereka shalat kecuali setan akan menguasainya. Berjamaahlah kalian, karena srigala hanya memangsa kambing yang sendirian” . [HR Abu dawud no 460 dan HR Ahmad no 26242].

wallohu’alam

(di kutip dari http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-berjama%e2%80%99ah-wajib-ataukah-sunnah/?#_ftn23)

melihat dari berbagai hukum di atas, maka kita sebagai muslim hendak nya memberi perhatian ekstra tentang sholat berjamaah ini sebagaimana sholat jumat. memang ada perbedaan pendapat di beberapa ulama tentang hukum sholat berjamaah tetapi alangkah baiknya  kita mengusahakan untuk sholat fardhu berjamaah jika tidak udzur. jika memang hukum sholat berjamaah adalah wajib, maka kita telah terbebas dari kewajiban. jika hukum sholat berjamaah adalah sunnah muakadah, maka kita mendapatkan keutamaan dari sunah muakadah tersebut. wallohu’alam.

=====

Memang berat untuk memulai sholat fardhu berjamaah ini, tetapi bukankah untuk mendapatkan sesuatu yang berharga dibutuhkan pengorbanan? every thousand miles journey must begin with a single step, begitu kata orang bule. berikut sharing beberapa tips untuk memprogram istiqomah sholat berjamaah :

a. Perdalam ilmu agama terutama tentang sholat berjamaah dan keutamaan nya.

ikuti kajian-kajian baik di masjid, radio maupun download di web. beberapa referensi kajian di web adalah

http://www.kajian.net , http://www.radiorodja.com, http://www.eramuslim.com, http://www.muslim.or.id  dsb

b. Tanamkan mindset investasi akhirat yang mudah tapi pahala nya berlebih

dalam dunia bisnis, kalau ada orang yang mau membayar kita 27 kali lipat dari bayaran kita, maka kita pasti akan bilang “OKE. apa yang harus saya kerjakan??” orang tersebut bilang “kamu kerjakan pekerjaan mu yang dulu, tapi lakukan secara tim (bersama-sama)”. what a big deal??? saya yakin kita akan meng iya kan tawaran orang tersebut.

begitu juga sholat berjamaah. mindset bisnis kita harus bermain juga dalam investasi akhirat ini. kita investasi dengan sholat fardhu berjamaah maka kita akan mendapatkan 27 keutamaan sholat fardhu sendirian?? subhanalloh !!!

c. Kita yang mengatur waktu, bukan waktu yang mengatur kita

Mulailah untuk memasukkan sholat berjamaah di jadwal kegiatan kita. Jika dalam perjalanan, kita harus menghitung waktu kapan dan dimana kita bisa sholat berjamaah di masjid. Jika kita rapat, maka rapat harus dipending ketika masuk waktu sholat (bukan hanya diam dengerin adzan, tapi tidak sholat. Adzan selesai, rapatnya lanjut). Jika tubuh lelah, tidurlah lebih awal sehingga subuh bisa bangun.

Mulailah untuk mengeset alarm HP di jam-jam sholat fardhu lima waktu. 5 menit sebelum waktu sholat masuk, alarm harus berbunyi.

d. Minta bantuan orang lain

jangan malu-malu untuk minta dibangunin orang lain saat subuh. orang tua/istri/suami/teman bisa kita minta tolong untuk membangunkan saat subuh. Begitu juga pada saat sholat fardhu yang lain, jangan malu untuk membuat janji dengan teman kerja/kuliah untuk ketemu di masjid, sholat berjamaah.

e. Kurangi perbuatan dosa dan perbanyak doa

semakin sering kita berbuat dosa dan maksiat maka hati ini semakin banyak noktah hitam nya sehingga semakin sulit dalam mendapat hidayah. dan jangan lupa selalu berdoa agar kita dijjadikan orang yang mendirikan sholat.

“Rabbij’anii muqiimas salaati wa min zurriyyatii rabbanaa wa taqabbal du’a’i ”

yang artinya “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (Q.S. Ibrahim [14]: 40)”

=====

Sungguh indah jika suatu saat nanti ketika kita sholat subuh di masjid, jamaahnya sebanyak jamaah sholat Jumat. Mari kita mulai dari diri kita sendiri untuk sholat berjamaah di masjid sebagai bentuk usaha kita dalam menegakkan sunnah, memakmurkan masjid dan menyiarkan islam.

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS Al A’la 13-16)

Alhamdulillah, semoga bermanfaat bagi yang pembaca.  jika ada yang salah dalam tulisan ini, mohon di koreksi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s