Sakti Ari Seno – Salman Al Jugjawy

Bismillah

Masih ingat reff dari lagu ini ?

“Bila ku lelah tetaplah disini,
jangan tinggalkan aku sendiri
Bila ku marah, biarkan ku bersandar,
jangan kau pergi untuk menghindar “

Yup!. lagu SO7 ini adalah salah satu lagu ciptaan Sakti, gitaris SO7, sebelum dia memutuskan keluar dari SO7.  Sakti Ari Seno, begitulah nama lengkap gitaris satu ini. Dia bergabung dengan sO7 pada tahun 1996, menggapai sukses di perjalanan karir nya sebagai musisi, dan akhirnya memutuskan keluar pada tahun 2006 disaat puncak karir dengan alasan yang menurut saya sungguh luar biasa yaitu ingin lebih dekat dengan Allah, Tuhan Seluruh alam.

Berikut sedikit kronologi perubahan Sakti SO7 dari beberapa sumber

Sakti memetik cahaya hidayah di kota Adisucipto, Yogyakarta, tahun 2005.  Saat itu ia bersama Erros akan terbang ke Malaysia untuk menerima penghargaan musik di negeri jiran itu. Saat menunggu pesawat, ia masuk ke sebuah toko buku. Matanya tertumbuk pada sebuah buku berjudul “Menjemput Sakaratul Maut Bersama Rasulullah”. “Saat itu sedang musim kecelakaan pesawat. Hati jadi tidak menentu, kepikiran bagaimana kalau pesawat yang saya tumpangi jatuh dan saya mati, bagaimana nanti jadinya,” ujarnya mengenang.
Buku itu lalu ia beli dan ia bawa kembali saat pulang. Di rumah, perasaannya semakin trenyuh karena mendapati ibunya sedang sakit lantaran sebelah paru-parunya mengecil. Pikirannya makin lekat pada kematian setelah seorang bibinya yang datang menjenguk membawakan sebuah majalah keagamaan yang juga bicara kematian.
Rentetan peristiwa itu membuat Sakti merasa diingatkan Allah tentang kematian, hal yang dulu sama sekali tak pernah ia pikirkan.
“Kita semua akan mati. Masalah waktunya, kita tak pernah tahu,” ujarnya pelan.
Ia seperti tersadar bahwa amal di dunia sangat menentukan kebahagiaan di akherat. Pikirannya semakin fokus pada kematian setelah dalam pengajian-pengajian yang ia ikuti ia memperoleh pengetahuan betapa dahsyatnya kepedihan akherat, dan sebaliknya betapa indahnya kebahagiaan disana.
“ Bila semua kesengsaraan di dunia ini dikumpulkan apa itu sakit parah, kecelakaan, tangan putus, tsunami dan sebagainya tidak ada artinya jika dibandingkan kesengsaraan di akherat yang paling ringan sekalipun, bagai setitik air di lautan. begitupun sebaliknya, jika semua kebahagiaan di dunia di kumpulkan tak ada artinya jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang ada di surga Allah,” ujarnya serius.
Hal itu menjadi motor dalam dirinya untuk terus belajar agama. Ia juga mulai tahu bahwa amal itu tak hanya untuk diri, tapi juga untuk orang lain. Karenanya, ia ingin seutuh mungkin masuk ke dalam agama Allah yang rahmat ini, hingga seluruh bagian dirinya termasuk di dalamnya.
Keutuhan Islam itu yang kini ia kejar dengan segiat mungkin belajar dan beribadah. Ia sempat belajar di beberapa pengajian dari berbagai aliran Islam yang ada. Tapi hatinya kemudian merasa cocok dengan Jamaah Tabligh. kepergiannya ke Pakistan tahun 2006 lalu untuk belajar yang banyak diberitakan media sebagai alasan ia keluar dari Sheila, ternyata tak lain untuk mengejar keutuhan itu.
“Saya ke India, Pakistan dan Baghdad, disana saya melihat bagaimana agama dijalankan dengan sebenar-benarnya. Dari situ saya tahu ada hak tetangga dalam diri kita, ada ajaran kasih sayang pada sesama.” ujarnya sambil menceritakan bagaimana ia bertemu dengan muslim dari segala bangsa disana.
Sakti sempat ditanya seorang ustadz saat di Pakistan. bagaimana perasaannya jika melihat orang dekat,keluarga, dan lain sebagainya jauh dari agama Allah? bagimana rasa kasih sayang itu harus diwujudkan dalam konteks ini? bagimana rahmat bagi seluruh alam yang menjadi merk agama ini dapat kamu perankan. Bagaimana perasaan cinta Nabi kepada Allah yang ditransfer kepada umatnya dapat pula ditransfer kepada orang di sekeliling kita? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi kesan tersendiri di hatinya untuk semakin kukuh di jalan ibadah dan dakwah.

Itulah sedikit perjalanan Sakti SO7 yang sekarang namanya berganti menjadi Salman Al Jugjawy.  Sakti tidak benar-benar lepas dari musik, dia masih bermain gitar dan merelease single yang bernuansa religi.

Hikmah yang bisa dipetik dari kisah singkat Sakti ari seno ini adalah

1.   Hidayah Alloh turunkan  kepada orang-orang yang Alloh kehendaki dengan cara yang tidak terduga. Hidayah tidak memandang apakah dia seorang musisi, preman, pencuri dst. Jika Alloh menurunkan hidayah kepada seseorang, tidak ada satu pun yang bisa menghalangi.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56).

2.   Mengingat kematian . Betapa kematian adalah salah satu musibah terbesar yang menimpa manusia . Jika maut sudah menjemput, pintu tobat sudah ditutup dan perhitungan amal dilakukan. Berapa banyak amal kebaikan dan perbuatan dosa yang dilakukan. Dengan mengingat kematian, dahsyat nya siksa kubur dan adzab neraka serta indah nya surga orang tidak akan lagi mengejar harta dan  gemerlapnya dunia karena mereka sadar, aktivitas dan harta mereka selama di dunia adalah salah satu alat menggapai kebahagiaan abadi di akhirat. Sakti memutuskan meninggalkan gemerlapnya dunia artis karena ingat kematian pasti datang menjemputnya.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari. kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185).

3. Tetap berkumpul dengan orang-orang yang sering mengingat Alloh. Dalam hal ini, Sakti memilih Jamaah Tabligh sebagai jamaah yang dia yakini benar dan sesuai dengan nurani nya.

2 thoughts on “Sakti Ari Seno – Salman Al Jugjawy”

    1. Aamiin.. Sekarang banyak kan artis yang menjadi pedakwah. Semoga mereka istiqomah, bagaimanapun sosk figur di kalangan masyarakat Indonesia masih berpengaruh besar pada perkembangan peradaban.. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 128 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: